O L E H
M U L I A D I
BONE ( AMALI )
MABBULO SIPEPPA,
MALILU SIPAKAINGE
MALI SIPARAPPE,
NENNIA REBBA SIPATOKKONG
Dalam lontara’ tersebut diketahui bahwa setelah habisnya
turunan Puatta Menre’E ri Galigo, keadaan negeri-negeri diwarnai dengan
kekacauan. Hal ini disebabkan karena tidak adanya arung (raja) sebagai pemimpin
yang mengatur tatanan kehidupan bermasyarakat. Terjadilah perang
kelompok-kelompok anang (perkauman) yang berkepanjangan (Bugis = Sianre bale).
Kelompok-kelompok masyarakat saling
bermusuhan dan berebut kekuasaan. Kelompok yang kuat menguasai kelompok yang
lemah dan memperlakukan sesuai kehendaknya. Keadaan yang demikian itu, dalam
Bahasa Bugis disebut SIANRE BALE (saling memakan bagaikan ikan). Tidak ada lagi
adat istiadat, apalagi norma-norma hukum yang dapat melindungi yang lemah.
Kehidupan manusia saat itu tak ubahnya binatang di hutan belantara, saling
memangsa satu sama lain.
Menurut catatan lontara’, keadaan
yang demikian itu berlangsung kurang lebih tujuh pariyama lamanya. Menurut
hitungan lama, satu pariyama mungkin sama dengan 100 tahun. Jadi kalau mengacu
pada perhitungan ini maka dapat dipastikan bahwa turunan Puatta MenreE ri
Galigo telah hilang 700 tahun yang lalu. Bone dan negeri-negeri sekitarnya
mengalami kekacauan yang sangat luar biasa. Wallahu a’lam bissawab.
Adapun awal datangnya seorang arung
(raja) di Bone yang dikenal dengan nama ManurungE ri Matajang Mata SilompoE,
ditandai dengan gejala alam yang menakutkan dan mengerikan. Terjadi gempa bumi
yang sangat dahsyat, kilat dan guntur sambar menyambar, hujan dan angin puting
beliung yang sangat keras.
Setelah keadaan itu reda dan sangat
tak terduga, tiba-tiba di tengah lapangan yang luas kelihatan ada orang berdiri
dengan pakaian serba putih. Karena tidak diketahui dari mana asal usulnya, maka
orang menyangkanya To Manurung yaitu manusia yang turun dari langit. Orang banyak
pun pada datang untuk mengunjunginya.
Adapun kesepakatan orang yang
menganggapnya sebagai To Manurung adalah untuk mengangkatnya menjadi arung
(raja) agar ada yang bisa memimpin mereka. Orang banyak berkata ; ”Kami semua
datang ke sini untuk meminta agar engkau jangan lagi mallajang (menghilang).
Tinggallah menetap di tanahmu agar engkau kami angkat menjadi arung (raja).
Kehendakmu adalah kehendak kami juga, perintahmu kami turuti. Walaupun anak
isteri kami engkau cela, kami pun mencelanya, asalkan engkau mau tinggal”.
Orang yang disangka To Manurung
menjawab ; ”Bagus sekali maksudmu itu, namun perlu saya jelaskan bahwa saya
tidak bisa engkau angkat menjadi arung sebab sesungguhnya saya adalah hamba
sama seperti engkau. Tetapi kalau engkau benar-benar mau mengangkat arung, saya
bisa tunjukkan orangnya. Dialah arung yang saya ikuti”.
Orang banyak berkata ; ” Bagaimana
caranya kami mengangkat seorang arung yang kami belum melihatnya?”.
Orang yang disangka To Manurung
menjawab ; ”Kalau benar engkau mau mengangkat seorang arung , saya akan
tunjukkan tempat – matajang (terang), disanalah arung itu berada”.
Orang banyak berkata ; ”Kami
benar-benar mau mengangkat seorang arung, kami semua berharap agar engkau dapat
menunjukkan jalan menuju ke tempatnya”.
Orang yang disangka To Manurung
(konon bernama Pua’ Cilaong dari Bukaka), mengantar orang banyak tersebut
menuju kesuatu tempat yang terang dinamakan Matajang (berada dalam kota
Watampone sekarang).
Gejala alam yang mengerikan tadi
kembali terjadi. Guntur dan kilat sambar menyambar, angin puting beliung dan
hujan deras disusul dengan gempa bumi yang sangat dahsyat. Setelah keadaan
reda, nampaklah To Manurung yang sesungguhnya duduk di atas sebuah batu besar
dengan pakaian serba kuning. To Manurung tersebut ditemani tiga orang yaitu ;
satu orang yang memayungi payung kuning, satu orang yang menjaganya dan satu
orang lagi yang membawa salenrang.
To Manurung berkata ; ”Engkau datang
Matowa?”
MatowaE menjawab ; ”Iyo, Puang”.
Barulah orang banyak tahu bahwa yang
disangkanya To Manurung itu adalah seorang Matowa. Matowa itu mengantar orang
banyak mendekati To Manurung yang berpakaian serba kuning.
Berkatalah orang banyak kepada To
Manurung ; ”Kami semua datang ke sini untuk memohon agar engkau menetap.
Janganlah lagi engkau mallajang (menghilang). Duduklah dengan tenang agar kami
mengangkatmu menjadi arung. Kehendakmu kami ikuti, perintahmu kami laksanakan.
Walaupun anak isteri kami engkau cela, kami pun mencelanya. Asalkan engkau
berkenan memimpin kami”.
To Manurung menjawab ; ”Apakah engkau tidak membagi hati dan
tidak berbohong?”
Setelah terjadi kontrak sosial
antara To Manurung dengan orang banyak, dipindahkanlah To Manurung ke Bone
untuk dibuatkan salassa (rumah). To Manurung tersebut tidak diketahui namanya
sehingga orang banyak menyebutnya ManurungE ri Matajang. Kalau datang di suatu
tempat dan melihat banyak orang berkumpul dia langsung mengetahui jumlahnya, sehingga
digelar Mata SilompoE.
ManurungE ri Matajang inilah yang
menjadi Mangkau’ (raja) pertama di Bone. ManurungE ri Matajang kemudian kawin
dengan ManurungE ri Toro yang bernama We Tenri Wale. Dari perkawinan itu
lahirlah La Ummasa dan We Pattanra Wanuwa, lima bersaudara.
Adapun yang dilakukan oleh ManurungE
ri Matajang setelah diangkat menjadi Mangkau’ di Bone adalah – mappolo leteng
(menetapkan hak-hak kepemilikan orang banyak), meredakan pula segala bentuk
kekerasan dan telah lahir yang namanya bicara (adat). ManurungE ri Matajang
pula yang membuat bendera kerajaan yang bernama WoromporongE.
Setelah genap empat pariyama
memimpin orang Bone, dikumpulkanlah seluruh orang Bone dan menyampaikan ;
”Duduklah semua dan janganlah menolak anakku La Ummasa untuk menggantikan
kedudukanku. Dia pulalah nanti yang melanjutkan perjanjian antara kita”.
Hanya beberapa saat setelah
mengucapkan kalimat itu, kilat dan guntur sambar menyambar. Tiba-tiba ManurungE
ri Matajang dan ManurungE ri Toro menghilang dari tempat duduknya. Salenrang
dan payung kuning turut pula menghilang membuat seluruh orang Bone pada heran.
Oleh karena itu diangkatlah anaknya yang bernama La Ummasa menggantikannya
sebagai arung (Mangkau’) di Bone.
Dialah yang menggantikan La Ubbi
ManurungE ri Matajang sebagai Mangkau’ di Bone. Setelah La Ummasa meninggal
maka digelarlah To Mulaiye Panreng (orang yang mula-mula dikuburkan). Mangkau’
ini hanya dinaungi dengan kaliyao (tameng) kalau dia bepergian untuk melindungi
dari teriknya matahari. Hal ini dilakukan karena tidak ada lagi payung di Bone.
La Ummasa digelar pula Petta Panre
BessiE (pandai besi) karena dialah yang mula-mula menciptakan alat-alat dari
besi di Bone. Di samping itu La Ummasa sangat dicintai oleh rakyatnya karena
memiliki berbagai kelebihan seperti ; daya ingatnya tajam, penuh perhatian,
jujur, adil dan bijaksana.
Saudara perempuannya yang bernama We
Pattanra Wanuwa kawin dengan Arung Palakka yang bernama La Pattikkeng. Konon La
Ummasa pernah bermusuhan dengan iparnya selama tiga bulan dan tidak ada yang
kalah. Akhirnya berdamai kembali dan keduanya menyadari bahwa permusuhan tidak
akan membawa keuntungan. Untuk memperluas wilayah pemerintahannya, La Ummasa
menaklukkan wilayah-wilayah sekitarnya, seperti ; Anro Biring, Majang, Biru,
Maloi dan Cellu.
La Ummasa tidak memiliki putra
mahkota yang kelak bisa menggantikan kedudukannya sebagai Mangkau’ di Bone. Dia
hanya memiliki anak perempuan,To Suwalle dan To Sulewakka dari isterinya yang
berasal dari orang biasa atau bukan turunan bangsawan. Oleh karena itu, setelah
dia tahu bahwa We Pattanra Wanuwa akan melahirkan, La Ummasa menyuruh anaknya
pergi ke Palakka ke rumah saudaranya We Pattanra Wanuwa yang diperisterikan
oleh Arung Palakka yang bernama La Pattikkeng.
Kepada anaknya To Suwalle dan To
Sulewakka, La Ummasa berpesan ; ”Kalau Puammu telah melahirkan, maka ambil anak
itu dan bawa secepatnya kemari. Nanti di sini baru dipotong ari-arinya dan
ditanam tembuninya”.
Tidak berapa lama setelah To Suwalle
dan To Sulewakka tiba di istana We Pattanra Wanuwa, lahirlah anak laki-laki
yang sehat dan memiliki rambut yang tegak ke atas (Bugis : karang) sehingga
dinamakan Karampeluwa. Ketika anaknya dibawa ke Bone, Arung Palakka tidak ada
di tempat dan tindakan itu menyakitkan hatinya.
Sesampainya di istana Arumpone, bayi
tersebut barulah dipotong ari-arinya dan dicuci darahnya. Bayi itu dipelihara
oleh saudara perempuan Arumpone yang bernama We Samateppa.
Arumpone La Ummasa mengundang
seluruh rakyatnya untuk datang berkumpul dan membawa senjata perang. Keesokan
harinya berkumpullah seluruh rakyat lengkap dengan senjata perangnya.
Dikibarkanlah bendera WoromporongE dan turunlah Arumpone di Baruga menyampaikan
; ”Saya undang kalian untuk mendengarkan bahwa saya telah mempunyai anak
laki-laki yang bernama La Saliyu Karampeluwa. Mulai hari ini saya menyerahkan
kedudukan saya sebagai Arumpone. Dan kepadanya pula saya serahkan untuk
melanjutkan perjanjian yang pernah disepakati antara Puatta ManurungE ri
Matajang dengan orang Bone”. Seluruh orang Bone mengiyakan kemudian mangngaru
(mengucapkan sumpah setia).
Dilantiklah La Saliyu Karampeluwa
oleh pamannya La Ummasa menjadi Arumpone. Acara pelantikan itu berlangsung
selama tujuh hari tujuh malam. Dalam acara itu pula nariule sulolona (selamatan
atas lahirnya) dan ditanam tembuninya. Setelah itu dinaikkanlah La Saliyu
Karampeluwa ke LangkanaE (istana).
Sejak dilantiknya La Saliyu
Karampeluwa menjadi Arumpone, maka setiap La Ummasa akan bepergian selalu
menyampaikan kepada pengasuhnya dalam hal ini saudaranya sendiri yang bernama
We Samateppa.
Suatu saat La Ummasa sakit keras
yang menyebabkan ia meninggal dunia, maka digelarlah ; La Ummasa Mulaiye
Panreng (orang mula-mula dikuburkan).
Dialah
yang menggantikan pamannya menjadi Arumpone. Kedudukannya ini diterima dari
pamannya sejak berusia satu malam (masih bayi). Kalau ada sesuatu yang akan
diputuskan maka To Suwalle yang memangkunya menjadi juru bicaranya. Kemudian
yang bertindak selaku Makkedang Tana adalah To Sulewakka.
Ketika
memasuki usia dewasa, barulah La Saliyu Karampeluwa mengunjungi orang tuanya di
Palakka. Sesampainya di Palakka, kedua orang tuanya sangat gembira dan
diberikanlah pusakanya yang menjadi miliknya, juga Pasar Palakka. Sejak itu
orang tidak lagi berpasar di Palakka tapi pindah ke Bone.
La
Saliyu Karampeluwa dikawinkan oleh orang tuanya dengan sepupunya yang bernama
We Tenri Roppo anak pattola (putri mahkota) Arung Paccing. Dari perkawinan itu
lahirlah We Banrigau atau Daeng Marowa, We Pattana Daeng Mabela yang digelar
MakkaleppiE kemudian menjadi Arung Majang. Sementara bagi orang Bukaka,
sebahagian dibawa ke Majang. Mereka itulah yang menjadi rakyat MakkaleppiE yang
mendirikannya Sao LampeE di Bone, yang diberi nama Lawelareng. Oleh karena itu,
maka digelarlah MakkaleppiE – Massao LampeE Lawelareng. Bagi orang banyak menyebutnya
; Puatta Lawelareng.
Pada
masa pemerintahannya, La Saliyu Karampeluwa sangat dicintai oleh rakyatnya
karena memiliki sifat-sifat ; rajin, jujur, cerdas, adil dan bijaksana. Ia juga
dikenal pemberani dan tidak pernah gentar menghadapi musuh. Konon sejak masih
bayi tidak pernah terkejut bila mendengarkan suara-suara aneh atau suara-suara
besar.
La
Saliyu Karampeluwa pulalah yang memulai mengucapkan ada passokkang (mosong /
angngaru) terhadap musuh, sebagaimana yang pernah dilakukan oleh arung-arung
terdahulu seperti yang tercatat dalam Galigo. Ia pula yang membuat bate
(bendera) yang bernama ; CellaE ri abeo dan CellaE ri atau (Merah di sebelah
kiri dan Merah di sebelah kanan WoromporongE).
Pada
saat itu orang Bone terbagi atas tiga bahagian dan masing-masing bahagian
bernaung di bawah bendera tersebut. Yang bernaung di bawah bendera WoromporongE
adalah Arumpone sendiri dan orang Majang sebagai pembawanya. Yang bernaung di
bawah bendera CellaE ri atau adalah orang Paccing, Tanete, Lemolemo, Melle,
Macege, Belawa pembawanya adalah Kajao Paccing. Sedangkan yang bernaung di
bawah bendera CellaE ri abeo adalah orang Araseng, Ujung, Ta’, Katumpi,
Padaccengnga, Madello, pembawanya adalah Kajao Araseng.
Untuk
memperluas wilayah kerajaannya, La Saliyu Karampeluwa menaklukkan negeri-negeri
sekitarnya seperti ; Pallengoreng, Sinri, Anro Biring, Melle, Sancereng,
Cirowali, Bakke, Apala, Tanete, Attang Salo, Soga, Lampoko, Lemoape, Bulu
Riattang Salo, Parigi, Lompu. Pada masa pemerintahannya dia mempersatukan orang
Bone dengan orang Palakka yang membuat Palakka sebagai wilayah bawahan dari
Bone.
Beberapa
negeri berikutnya menyatakan diri bernaung di bawah pemerintahannya, seperti ;
LimampanuwaE ri Alau Ale’ (Lanca, Otting, Tajong, Ulo dan Palongki). Datang
pula Arung Baba UwaE yang bernama La Tenri Waru menemui menantunya menyatakan
bernaung di bawah Kerajaan Bone. Begitu pula Arung Barebbo dan Arung Pattiro
yang bernama La Paonro menemui iparnya menyatakan bernaung di bawah Kerajaan
Bone, juga Arung Cina, Ureng dan Pasempe.
Arung
Kaju yang bernama La Tenri Bali di samping datang untuk menyatakan diri
bergabung dengan Bone, sekaligus melamar anak Arumpone yang bernama We Banrigau
dan dutanya diterima.
Selanjutnya
Arung Ponre, LimaE Bate ri Attangale’, AseraE Bate ri Awangale’ datang
bergabung dengan Bone. Boleh dikata pada saat pemerintahannya, seluruh wilayah
disekitarnya menyatakan diri bergabung dengan Bone.
La
Saliyu Karampeluwa dikenal sangat mencintai dan menghormati kedua orang tuanya.
Hamba sendirinya dikeluarkan dari Saoraja dan ditempatkan di Panyula. Sementara
hamba yang didapatkan setelah menjadi Arumpone di tempatkan di Limpenno. Orang
Panyula dan orang Limpennolah yang mempersembahkan ikan. Dia pula yang menjadi
pendayung perahunya dan pengusungnya jika Arumpone bepergian jauh.
Setelah
genap 72 tahun menjadi Mangkau’ di Bone, dikumpulkanlah seluruh orang Bone dan
menyampaikan bahwa ;
”Saya
mengumpulkan kalian untuk memberitahukan bahwa mengingat usia saya sudah tua
dan kekuatan saya sudah semakin melemah, maka saya bermaksud untuk memindahkan kekuasaan
saya sebagai Mangkau’ di Bone. Pengganti saya adalah anak saya yang bernama We
Banrigau Daeng Marowa yang digelar MakkaleppiE”.
Mendengar
itu, semua orang Bone menyatakan setuju. Maka dikibarkanlah bendera
WoromporongE. Setelah itu berkata lagi Arumpone ; ”Di samping saya menyerahkan
kekuasaan, juga saya serahkan perjanjian yang telah disepakati oleh orang Bone
dengan Puatta Mulaiye Panreng untuk dilanjutkan oleh anak saya”.Setelah orang
Bone kembali, hanya satu malam saja Arumpone meninggal dunia.
Anak
La Saliyu Karampeluwa dengan isterinya We Tenri Roppo Arung Paccing, adalah ;
We Banrigau Daeng Marowa MakkaleppiE kawin dengan sepupunya yang bernama La
Tenri Bali Arung Kaju. Dari perkawinan itu lahirlah La Tenri Sukki, La Panaungi
To Pawawoi Arung Palenna, La Pateddungi To Pasampoi, La Tenri Gora Arung Cina
juga Arung di Majang, La Tenri Gera’ To Tenri Saga, La Tadampare (meninggal
dimasa kecil), We Tenri Sumange’ Da Tenri Wewang, We Tenri Talunru Da Tenri
Palesse.
Adapun
anak La Saliyu Karampeluwa dari isterinya yang bernama We Tenro Arung Amali
yaitu La Mappasessu kawin dengan We Tenri Lekke’.
La
Saliyu Karampeluwa tiga bersaudara. Saudara perempuannya yang bernama We Tenri
Pappa kawin dengan La Tenri Lampa Arung Kaju melahirkan La Tenri Bali (suami We
Banrigau), sedangkan saudara perempuannya yang bernama We Tenri Roro kawin
dengan La Paonro Arung Pattiro, lahirlah La Settia Arung Pattiro yang selanjutnya
kawin dengan We Tenri Bali.
We Banrigau Daeng Marowa MakkaleppiE
menggantikan ayahnya La Saliyu Karampeluwa sebagai Mangkau’ di Bone. We
Banrigau digelar pula Bissu Lalempili dan Arung Majang. Ketika menjadi Mangkau’
di Bone, We Banrigau menyuruh Arung Katumpi yang bernama La Datti untuk membeli
Bulu’ Cina (gunung Cina) senilai 90 ekor kerbau jantan. Akhirnya gunung yang
terletak di sebelah barat Kampung Laliddong itu benar-benar dibelinya. Kemudian
disuruhlah Arung Katumpi untuk menempati gunung tersebut dan sekaligus
menjaganya. Karena jennang (penjaga) gunung Arumpone dibunuh oleh orang
Katumpi, maka digempurlah Katumpi oleh orang Bone sehingga dirampaslah sawahnya
yang ada di sebelah timur dan barat Kampung Laliddong. Saudaranya yang bernama
La Tenri Gora itulah yang diserahkan Majang dan Cina, maka La Tenri Gora
disebut sebagai Arung Majang dan Arung Cina. Sedangkan anak pertamanya yang
bernama La Tenri Sukki dipersiapkan untuk menjadi Mangkau’ di Bone.
Setelah kurang lebih 18 tahun
lamanya dipersiapkan untuk memangku Kerajaan di Bone, maka dilantiklah La Tenri
Sukki menjadi Mangkau’ di Bone dan menempati Saoraja Bone. MakkaleppiE bersama
anak bungsunya yang bernama La Tenri Gora memilih untuk bertempat tinggal di
Cina.
Suatu saat ketika berada di Cina,
MakkaleppiE naik ke atas loteng rumahnya. Tiba-tiba ada api yang menyala di
atas loteng (menurut keyakinan orang disebut = api dewata). Setelah api itu
padam, maka MakkaleppiE tidak nampak lagi di tempat duduknya. Oleh karena itu,
We Banrigau Daeng Marowa dinamakan MallajangE ri Cina.
La Tenri Sukki yang menggantikan
ibunya sebagai Arumpone kawin dengan sepupu satu kalinya yang bernama We Tenri
Songke, anak dari La Mappasessu dengan We Tenri Lekke. Dari perkawinan ini
lahirlah La Uliyo Bote’E. La Panaongi To Pawawoi yang kemudian menjadi Arung
Palenna. La Panaongi kawin dengan We Tenri Esa’ Arung Kaju saudara perempuan We
Tenri Songke. Dari perkawinan ini lahirlah La Pattawe Daeng Sore MatinroE ri
Bettung.
Anak La Tenri Sukki yang lain adalah
; La Pateddungi To Pasampoi kawin dengan We Malu Arung Toro melahirkan anak
perempuan yang bernama We Tenri Rubbang Arung Pattiro. La Tenri Gera’ To Tenri
Saga MacellaE Weluwa’na menjadi Arung di Timpa. Inilah yang kemudian kawin
dengan We Tenri Sumpala Arung Mampu, anak dari La Potto To Sawedi Arung Mampu
Riaja dengan isterinya We Cikodo Datu Bunne. Dari perkawinan ini lahirlah We
Mappewali I Damalaka. Inilah yang kawin dengan anak sepupunya yang bernama La
Gome To Saliwu Riwawo, lahirlah La Saliwu Arung Palakka dan juga Maddanreng di
Mampu. La Saliwu kemudian kawin dengan MassalassaE ri Palakka yang bernama We
Lempe, lahirlah La Tenri Ruwa MatinroE ri Bantaeng.
Selanjutnya La Tenri Sukki
melahirkan La Tadampare (meninggal dimasa kecil). Berikutnya We Tenri Sumange I
Da Tenri Wewang kawin dengan La Tenri Giling Arung Pattiro MaggadingE anak dari
La Settia Arung Pattiro dengan isterinya We Tenri Bali. Lahirlah We Tenri
Wewang DenraE yang kemudian kawin dengan sepupunya La Uliyo Bote’E.
Anak berikutnya adalah We Tenri
Talunru I Da Tenri Palesse. Kemudian We Tenri Gella kawin dengan La Malesse Opu
Daleng Arung Kung. Lahirlah We Tenri Gau yang kemudian kawin dengan La Uliyo
Bote’E, lahirlah We Temmarowe Arung Kung. Inilah yang kawin dengan La Polo Kallong
anak La Pattanempunga, turunan ManurungE ri Batulappa
------------------------------------------------------------------ Sumber Teluk
Bone
Inilah Mangkau’ di Bone yang diserang oleh Datu Luwu yang
bernama Dewa Raja yang digelar Batara Lattu. Mula-mula orang Luwu mendarat di
Cellu dan disitulah membuat pertahanan. Sementara orang Bone berkedudukan di
Biru-biru.
Adapun taktik yang dilakukan oleh
orang Bone adalah memancing orang Luwu dengan beberapa perempuan. Pancingan ini
berhasil mengelabui orang Luwu sehingga pada saat perang berlangsung orang Luwu
yang pada mulanya menyangka tidak ada laki-laki, bersemangat menghadapi perempuan-perempuan
tersebut. Namun dari belakang muncul laki-laki dengan jumlah yang amat banyak,
sehingga orang Luwu berlarian ke pantai untuk naik ke perahunya. Dalam perang
itu orang Bone berhasil merampas bendera orang Luwu.
Setelah perang selesai, Arumpone dan
Datu Luwu mengadakan pertemuan. Arumpone mengembalikan payung warna merah itu
kepada Datu Luwu, tetapi Datu Luwu mengatakan ; ”Ambillah itu payung sebab
memang engkaulah yang dikehendaki oleh DewataE (Tuhan) untuk bernaung di
bawahnya. Walaupun bukan karena perang engkau ambil, saya akan tetap berikan.
Apalagi saya memang memiliki dua payung”. Mulai dari peristiwa itu , La Tenri
Sukki digelar MappajungE (memakai payung).
Selanjutnya La Tenri Sukki
mengadakan lagi pertemuan dengan Datu Luwu To Serangeng Dewa Raja dan lahirlah
suatu perjanjian yang bernama ; Polo MalelaE ri Unynyi (gencatan senjata di
Unynyi).
Dalam perjanjian ini Arumpone La
Tenri Sukki berkata kepada Datu Luwu ; ”Alangkah baiknya kalau kita saling
menghubungkan Tanah Bone dengan Tanah Luwu”. Dijawab oleh Datu Luwu ; ”Baik sekali
pendapatmu itu, Arumpone”.
Merasa ajakannya disambut
baik,Arumpone berkata ; ”Kalau ada yang keliru, mari kita saling mengingatkan –
kalau ada yang rebah mari kita saling menopang – dua hamba satu Arung –
tindakan Luwu adalah tindakan Bone – tindakan Bone adalah tindakan Luwu – baik
dan buruk kita bersama – tidak saling membunuh – saling mencari kebaikan –
tidak saling mencurigai – tidak saling mencari kesalahan – walaupun baru satu
malam orang Luwu berada di Bone, maka menjadilah orang Bone – walaupun baru
satu malam orang Bone berada di Luwu, maka menjadilah orang Luwu – bicaranya
Luwu, bicaranya Bone – bicaranya Bone, bicaranya Luwu – adatnya Luwu, adatnya
juga Bone, begitu pula sebaliknya – kita tidak saling menginginkan emas murni
dan harta benda – barang siapa yang tidak mengingat perjanjiannya, maka dialah
yang dikutuk oleh Dewata SeuwaE sampai kepada anak cucunya – dialah yang hancur
bagaikan telur yang jatuh ke batu –”
Kalimat ini diiyakan oleh Datu Luwu
To Serangeng Dewa Raja. Perjanjian ini bernama ”Polo MalelaE ri Unynyi” karena
terjadi di Kampung Unynyi. Kemudian keduanya kembali ke negerinya.
Dimasa pemerintahan La Tenri Sukki,
pernah pula terjadi permusuhan antara orang Bone dengan orang Mampu.
Pertempuran terjadi di sebelah selatan Itterung, diburu sampai di kampungnya.
Arung Mampu yang bernama La Pariwusi kalah dan menyerahkan persembahan kepada
Arumpone. Arung Mampu berkata ; ”Saya serahkan sepenuhnya kepada Arumpone,
asalkan tidak menurunkan saya dari pemerintahanku”.
Arumpone menjawab ; ”Saya akan
mengembalikan persembahanmu dan saya akan mendudukkanmu sebagai Palili (wilayah
bawahan) di Bone. Akan tetapi engkau harus berjanji untuk tidak berpikir jelek
dan jujur sebagai pewaris harta benda”. Sesudah itu, dilantiklah Arung Mampu
memimpin kampungnya dan kembalilah Arumpone ke Bone.
La Tenri Sukki menjadi Mangkau’ di
Bone selama 20 tahun, akhirnya menderita sakit. Dikumpulkanlah seluruh orang
Bone dan menyampaikan ; ”Saya sekarang dalam keadaan sakit, apabila saya wafat
maka yang menggantikan saya adalah anakku yang bernama ; La Uliyo”. Setelah
pesan itu disampaikan, ia pun menghembuskan nafasnya yang terakhir.
Anak La Tenri Sukki dari isterinya
We Tenri Songke, adalah ; La Uliyo Bote’E kawin dengan sepupunya yang bernama
We Tenri Wewang DenraE, anak saudara kandung La Tenri Sukki yang bernama We
Tenri Sumange’ dengan suaminya yang bernama La Tenri Giling Arung Pattiro
MaggadingE. Dari perkawinan ini lahirlah La Tenri Rawe BongkangE, La Inca, We
Lempe, We Tenri Pakkuwa.
Selain La Uliyo, ialah ; We Denra
Datu, We Sida (tidak disebutkan dalam lontara’ yang digulung).
We Sida Manasa kawin dengan La
Burungeng Daeng Patompo, anak dari La Panaongi To Pawawoi Arung Palenna dari
isterinya yang bernama We Mappasunggu. Dari perkawinan ini lahirlah anak
laki-laki yang bernama La Paunru Daeng Kelli.
La Uliyo Bote’E menggantikan ayahnya
La Tenri Sukki sebagai Mangkau’ di Bone. Digelar Bote’E karena dia memiliki
postur tubuh yang subur (gempal). Konon sewaktu masih kanak-kanak ia sudah
kelihatan besar dan kalau diusung, pengusung lebih dari tujuh orang.
La Uliyo dikenal suka menyabung
ayam, kawin dengan We Tenri Wewang DenraE anak Arung Pattiro MaggadingE dengan
isterinya We Tenri Sumange’.
Arumpone inilah yang pertama
didampingi oleh Kajao Laliddong. Dia pulalah yang mengadakan perjanjian dengan
KaraengE ri Gowa yang bernama Daeng Matanre. Dalam perjanjian tersebut
dijelaskan Sitettongenna SudengngE – Lateya Riduni di Tamalate ;
”Kalau ada kesulitan Bone, maka laut
akan berdaun untuk dilalui oleh orang Mangkasar. Kalau ada kesulitan orang
Gowa, maka gundullah gunung untuk dilalui orang Bone. Tidak saling mencurigai,
tidak saling bermusuhan Bone dengan Gowa, saling menerima dan saling memberi,
siapa yang memimpin Gowa, dialah yang melanjutkan perjanjian ini, siapa yang
memimpin Bone dialah yang melanjutkan perjanjian ini sampai kepada anak
cucunya. Barang siapa yang mengingkari perjanjian ini, pecahlah periuk nasinya
– seperti pecahnya telur yang jatuh ke batu”.
Arumpone inilah yang mengalahkan
Datu Luwu yang tinggal di Cenrana. Pada masa pemerintahannya pulalah Bone mulai
dikuasai oleh Gowa. Dalam lontara’ dijelaskan bahwa KaraengE ri Gowa duduk
bersama Arumpone di sebelah selatan Laccokkong.
Pada saat itu antara orang Bone
dengan orang Gowa saling membunuh. Kalau orang Gowa yang membunuh, maka
Arumpone yang mengurus jenazahnya. Begitu pula kalau orang Bone yang membunuh,
maka KaraengE ri Gowa yang mengurus jenazahnya. Arumpone ini pula yang menemani
KaraengE ri Gowa pergi meminta persembahan orang Wajo di Topaceddo.
Setelah genap 25 tahun menjadi
Mangkau’ di Bone, dikumpulkanlah seluruh orang Bone. Setelah semuanya
berkumpul, disampaikanlah bahwa ; ”Saya akan menyerahkan Akkarungeng ini kepada
anakku yang bernama La Tenri Rawe”. Mendengar pernyataan Arumpone tersebut,
seluruh orang Bone setuju. Maka dilantiklah anaknya menjadi Arumpone. Acara
pelantikan itu berlangsung meriah selama tujuh hari tujuh malam.
Karena kedudukannya sebagai Arumpone
telah diserahkan kepada anaknya, maka La Uliyo Bote’E hanya bolak balik antara
isterinya di Bone dengan isterinya di Mampu.
La Uliyo Bote’E pernah memarahi
kemenakannya yang bernama La Paunru dengan sepupunya yang menjadi Arung Paccing
yang bernama La Mulia. Keduanya pergi meminta bantuan kepada Kajao Laliddong
agar diminta maafkan. Tetapi sebelum rencana itu terlaksana, La Uliyo Bote’E
pergi ke Mampu untuk menyabung ayam. Tiba-tiba ia melihat kemenakannya dan
sepupunya membuat hatinya semakin dongkol. Ia pun segera kembali ke Bone.
La Paunru dan La Mulia berpendapat
lebih baik kita menyerahkan diri kepada Kajao Laliddong di Bone untuk
selanjutnya diminta maafkan kepada Bote’E. Makanya setelah Bote’E meninggalkan
Mampu, keduanya mengikut dari belakang.
Setelah sampai di Itterung, La Uliyo
Bote’E menoleh ke belakang, dilihatnya La Paunru bersama La Mulia berjalan
mengikutinya. Karena disangkanya La Paunru dan La Mulia berniat jahat
terhadapnya, maka ia pun berbalik menyerangnya. La Paunru dan La Mulia walaupun
tidak bermaksud melawan, namun karena terdesak oleh serangan La Uliyo akhirnya
keduanya terpaksa melawan. Dalam perkelahian tersebut, baik La Paunru maupun La
Uliyo tewas di tempat, sedangkan La Mulia dibunuh oleh orang yang datang
membantu La Uliyo.Sejak itu, digelarlah La Uliyo Bote’E MatinroE ri Itterung.
Adapun anak La Uliyo Bote’E dari
isterinya yang bernama We Tenri Wewang DenraE, adalah La Tenri Rawe BongkangE.
Inilah yang menggantikannya sebagai Mangkau’ di Bone. La Tenri Rawe kawin
dengan We Tenri Pakiu Arung Timurung MaccimpoE.
Anak berikutnya adalah La Inca,
dialah yang menggantikan saudaranya menjadi Mangkau’ di Bone. La Inca kawin
dengan janda saudaranya, We Tenri Pakiu Arung Timurung MaccimpoE.
Anaknya yang berikut, We Lempe yang
kawin dengan sepupu dua kalinya yang bernama La Saliwu Arung Palakka, anak dari
We Mangampewali I Damalaka dengan suaminya La Gome. Dari perkawinan ini
lahirlah La Tenri Ruwa Arung Palakka MatinroE ri Bantaeng.
Selanjutnya We Tenri Pakkuwa, kawin
dengan La Makkarodda To Tenri Bali Datu Mario. Sesudah We Tenri Pakkuwa adalah
We Danra MatinroE ri Bincoro. Tidak disebutkan turunannya dalam lontara’
Adapun anak La Uliyo Bote’E dari
isterinya yang bernama We Tenri Gau Arung Mampu adalah We Balole I Dapalippu.
Inilah yang kawin dengan paman sepupu ayahnya yang bernama La Pattawe Arung
Kaju MatinroE ri Bettung, anak dari saudara La Tenri Sukki MappajungE yang
bernama La Panaongi To Pawawoi Arung Palenna dengan isterinya We Tenri Esa’
Arung Kaju.
Sesudah We Balole adalah Sangkuru’
Dajeng Petta BattowaE Massao LampeE ri Majang. Dia digelar pula sebagai Arung
Kung, tidak disebutkan keturunannya dalam lontara’.
La Tenri Rawe BongkangE menggantikan
ayahnya La Uliyo Bote’E menjadi Arumpone. La Tenri Rawe kawin dengan We Tenri
Pakiu Arung Timurung MaccimpoE anak dari La Maddussila dengan isterinya We
Tenri Lekke.
La Tenri Rawe dengan isterinya Arung
Timurung melahirkan anak yang bernama ; La Maggalatung, inilah yang
dipersiapkan untuk menjadi putra mahkota menggantikan ayahnya sebagai Arumpone,
dia meninggal dunia semasa kecil. Yang kedua bernama ; La Tenri Sompa
dipersiapkan untuk menjadi Arung Timurung, tetapi juga meninggal karena dibunuh
oleh orang yang bernama Dangkali.
Ketika menjadi Mangkau’ di Bone, La
Tenri Rawe sangat dicintai oleh orang banyak karena memiliki sifat-sifat
seperti ; berbudi pekerti yang baik, jujur, dermawan, adil dan sangat
bijaksana. Dia tidak membedakan antara keluarganya yang memiliki turunan
bangsawan dengan keluarganya dari orang biasa.
Sebagai Arumpone, La Tenri Rawe yang
pertamalah membagi tugas-tugas (makkajennangeng) seperti: yang bertugas
mengurus jowa (pengawal), yang bertugas mengurus anak bangsawan dan yang
mengurus wanuwa.
Pada masa pemerintahannya pernah
dikunjungi oleh KaraengE ri Gowa masuk ke Bone untuk menyabung ayam. Dalam
pertarungan itu, ayam KaraengE ri Gowa terbunuh oleh ayam Arumpone dengan
taruhan seratus kati. Pada masa pemerintahannya pula seluruh orang Ajangale’
datang menggabungkan diri di Bone. Ditaklukkanlah Awo Teko, Attassalo dan
lain-lain.
TellumpoccoE juga datang
menggabungkan Babanna Gowa di Bone dan diterima kemudian didudukkanlah sebagai
daerah bawahan dari Bone. Hal ini membuat KaraengE ri Gowa marah dan menyusul
masuk ke Bone. Bertemulah orang Gowa dengan orang Bone di sebelah selatan Mare
dan berperang selama tujuh hari tujuh malam, baru berdamai. Jelaslah kekuasaan
orang Bone pada bahagian selatan Sungai Tangka ke atas.
Datu Soppeng Rilau yang diturunkan dari tahtanya datang ke Bone untuk minta
perlindungan. Karena Datu Soppeng Rilau yang bernama La Makkarodda To Tenri
Bali MabbeluwaE merasa terdesak. Tidak lama setelah berada di Bone, ia pun
kawin dengan saudara Arumpone yang bernama We Tenri Pakkuwa. Dari perkawinannya
itu lahir anak perempuan , We Dangke atau We Basi LebaE ri Mario Riwawo.
Saudara Arumpone yang bernama We
Lempe kawin dengan sepupu dua kalinya yang bernama La Saliwu Arung Palakka.
Dari perkawinannya itu melahirkan anak ; La Tenri Ruwa MatinroE ri Bantaeng
kawin dengan sepupu satu kalinya yang bernama We Dangke. La Tenri Ruwa adalah
nenek MatinroE ri Bontoala.
Suatu saat, Bone didatangi oleh Gowa
dan terjadilah perang di Cellu. Perang berlangsung selama lima hari lima malam
dan orang Gowa mundur. Dua tahun kemudian datang KaraengE ri Gowa untuk
menyerang lagi. Kali ini perang berlangsung selama tujuh hari tujuh malam.
Orang Gowa mengambil tempat pertahanan di Walenna, tetapi KaraengE ri Gowa tiba-tiba
terserang penyakit, maka ia harus kembali ke kampungnya. Konon, ketika sampai di
Gowa ia pun meninggal dunia.
Hanya kurang lebih dua bulan
kemudian, datang lagi KaraengE ri Gowa yang bernama Daeng Parukka yang
menggantikan ayahnya untuk kembali menyerang Bone. Mendengar bahwa Gowa
kembali, maka seluruh orang Ajangale’ dan orang Timurung datang membantu Bone.
Adapun Limampanuwa Rilau Ale’ berkedudukan di Cinennung.
Sementara orang Awampone
berkedudukan di Pappolo berdekatan dengan benteng pertahanan KaraengE ri Gowa.
Terjadilah perang yang sangat dahsyat. Orang Gowa menyerbu ke arah selatan,
membakar Kampung Bukaka dan Takke Ujung. Akhirnya Karaeng Gowa tewas terbunuh.
Daeng Padulung salah seorang
pembesar Gowa yang menjadi pemimpin perang nampaknya sudah kewalahan menghadapi
serangan orang Bone. Oleh karena itu Karaeng Tallo memerintahkan utusannya
untuk menemui Arumpone. Adapun yang disampaikan oleh utusan Karaeng Tallo
adalah ; ”Kami telah kehilangan dua Karaeng (pemimpin) yaitu satu tewas di
tempat tidur dan satu lagi tewas di lapangan. Tetapi sekarang kami menghendaki
kebaikan”.
Berkata Kajao Laliddong ; ”Kalau begitu pendapatmu, besok pagi saya akan
menemui KaraengE”. Keesokan harinya keluarlah Kajao Laliddong selaku penasehat
Arumpone untuk menemui KaraengE ri Tallo. Dalam pertemuannya itu, terjadilah
kesepakatan mengangkat Daeng Patobo menjadi Karaeng ri Gowa.
Ketika menjadi Arumpone La Tenri
Rawe BongkangE pernah bertentangan dengan Datu Luwu yang bernama Sagariya
karena orang Luwu naik lagi ke Cenrana. Maka wanuwa Cenrana telah dua kali
direbut dengan kekuatan senjata (riala bessi) oleh orang Bone.
Untuk memperkuat kedudukan Bone
sebagai suatu kerajaan yang tangguh, La Tenri Rawe menjalin hubungan kerja sama
dengan Arung Matowa Wajo yang bernama To Uddamang. Begitu juga dengan Datu
Soppeng yang bernama PollipuE. Maka diadakanlah pertemuan di Cenrana untuk
memperkuat hubungan antara Bone, Soppeng dan Wajo.
Adapun kesepakatan yang diambil di
Cenrana adalah ketiganya akan mengadakan pertemuan lanjutan di Timurung.
Setelah sampai pada waktu yang telah ditentukan, maka berkumpullah orang Bone,
orang Soppeng dan orang Wajo di suatu tempat yang bernama Bunne. Ketiganya
mengucapkan ikrar ; ”Tessiabiccukeng – Tessiacinnai ulaweng tasa – Pattola
malampe waramparang maega” (tidak saling memandang rendah – tidak saling iri
hati – saling mengakui kepemilikan). Setelah itu barulah ketiganya mallamumpatu
(meneggelamkan batu) sebagai tanda kuatnya perjanjian tersebut, sehingga
disebutlah – LamumpatuE ri Timurung.
Inilah catatan yang menjelaskan TellumpoccoE (Bone – Soppeng – Wajo) yang
terkandung dalam perjanjian yang diadakan oleh La Tenri Rawe BongkangE (Bone),
To Uddamang (Wajo) dan La Mata Esso (Soppeng).
Ketika sampai pada hari yang telah
disepakati, bertemulah di Timurung. Datanglah Arumpone, diikuti oleh seluruh
Palili Bone. Datang juga Arung Matowa Wajo yang bernama La Mungkace To Uddamang
MatinroE ri Kanana. Selanjutnya datang juga Datu Soppeng yang bernama La
Mappaleppe PatolaE Arung Belo MatinroE ri Tanana. Diikuti pula oleh seluruh
Palili Soppeng dan Wajo.
Pertemuan tiga kerajaan yang lebih
dikenal dengan nama Pertemuan TellumpoccoE tersebut diadakan di Timurung di
suatu kampung kecil yang bernama Bunne. Dalam pertemuan tersebut Arung Matowa
Wajo bertanya kepada Arumpone ; ”Bagaimana mungkin Arumpone, untuk kita
hubungkan tanah kita bertiga, sementara Wajo adalah kekuasaan Gowa. Kemudian
kita tahu bahwa antara Bone dengan Gowa juga memiliki hubungan yang kuat”.
Arumpone menjawab ; ”Itu pertanyaan
yang bagus Arung Matowa. Tetapi yang menjalin hubungan disini adalah Bone,
Soppeng dan Wajo. Selanjutnya Bone menjalin hubungan dengan Gowa. Kalau Gowa
masih mau menguasai Wajo, maka kita bertiga melawannya”. Pernyataan Arumpone
tersebut diiyakan oleh Arung Matowa Wajo.
Berkata pula PollipuE ri Soppeng ;
”Bagus sekali pendapatmu Arumpone, tanah kita bertiga bersaudara. Tetapi saya
minta agar tanah Soppeng adalah pusaka tanah Bone dan Wajo. Sebab yang namanya
bersaudara, berarti sejajar”. Arumpone menjawab ; ”Bagaimana pendapatmu Arung
Matowa, sebab menurutku apa yang dikatakan oleh PollipuE adalah benar”. Arung
Matowa Wajo menjawab ; ”Saya kira tanah kita bertiga akan rusak apabila ada
yang namanya – sipoana’ (ada yang menganggap dirinya tua dan ada yang muda).
Berkata lagi Arumpone ; ”Saya setuju dengan itu, tetapi tidak apalah saya
berikan kepada Soppeng Gowagowa dan sekitarnya untuk penambah daki, agar tanah
kita bertiga tetap bersaudara”.
Berkata pula Arung Matowa Wajo ;
”Bagus pendapatmu Arumpone, saya juga akan memberikan Soppeng penambah daki
yaitu Baringeng, Lompulle dan sekitarnya”. Datu Soppeng dan Tau TongengE
berkata ; ”Terima kasih atas maksud baikmu itu, karena tanah kita bertiga telah
bersaudara, tidak saling menjerumuskan kepada hal yang tidak dikehendaki, kita
bekerja sama dalam hal yang kita sama kehendaki”.
Berkata Arumpone dan Arung Matowa
Wajo ; ”Kita bertiga telah sepakat, maka baiklah kita bertiga meneggelamkan
batu, disaksikan oleh Dewata SeuwaE, siapa yang mengingkari perjanjiannya
dialah yang ditindis oleh batu itu”.
Berkatalah Arung MatowaE ri Wajo
kepada Kajao Laliddong sebagai orang pintarnya Bone ; ”Janganlah dulu menanam
itu batu, Kajao! Sebab saya masih ada yang akan kukatakan bahwa persaudaraan
TellumpoccoE tidak akan saling menjatuhkan, tidak saling berupaya kepada
hal-hal yang buruk, janganlah kita mengingkari perjanjian, siapa yang tidak mau
diingatkan, dialah yang kita serang bersama (diduai), dia yang kita tundukkan”.
Pernyataan Arung MatowaE tersebut
disetujui oleh Arumpone dan Datu Soppeng. Setelah itu ketiganya berikrar untuk
; ”Malilu sipakainge – rebba sipatokkong – sipedapiri ri peri’ nyameng – tellu
tessibaicukkeng – tessi acinnai ulaweng tasa – pattola malampe waramparang
maega – iya teya ripakainge iya riadduai” (yang khilaf diingatkan – yang rebah
ditopang – saling menyampaikan kesulitan dan kesenangan – tiga tidak ada yang
dikecilkan – tidak saling merebut kekayaan – saling mengakui hak kepemilikan).
Inilah isi perjanjian TellumpoccoE
yang ditindis batu di Timurung, disaksikan oleh Dewata SeuwaE. Ikrar kesetiaan
ini dipegang erat-erat oleh ketiganya.
Dua tahun setelah perjanjian
TellumpoccoE, La Tenri Rawe BongkangE memanggil saudaranya yang bernama La
Inca. Kepada La Inca, La Tenri Rawe menyampaikan bahwa setelah sampai ajalnya,
maka saudaranyalah La Inca yang diserahkan kedudukan sebagai Mangkau’ di Bone
karena dirinya tidak memiliki anak pattola (putra mahkota).
Karena pada saat meninggal,
jenazahnya dibakar dan abunya dimasukkan ke dalam guci, maka digelarlah La
Tenri Rawe BongkangE MatinroE ri Gucinna.
Menggantikan saudaranya La Tenri
Rawe sebagai Arumpone. Kedudukan ini memang telah diserahkan ketika La Tenri
Rawe masih hidup. Bahkan La Tenri Rawe berpesan kepadanya agar nanti kalau
sampai ajalnya, La Inca dapat mengawini iparnya (isteri La tenri Rawe) yaitu We
Tenri Pakiu Arung Timurung.
Setelah menjadi Mangkau’, KaraengE
ri Gowa datang untuk menyerang Bone. Ternyata La Inca tidak mewarisi
kepemimpinan yang telah dilakukan oleh saudaranya. Banyak langkah-langkahnya
yang sangat merugikan orang banyak. Para Arung Lili dimarahi dan dihukumnya.
Salah seorang Arung Lili yang bernama La Patiwongi To Pawawoi diasingkan ke
Sidenreng. Karena sudah terlalu lama berada di Sidenreng, maka ia pun kembali
ke Bone untuk minta maaf.
Namun apa yang dialami setelah
kembali ke Bone, dia malah diusir dan dibunuh. Arung Paccing dan cucunya yang
bernama La Saliwu, Maddanreng Palakka yang bernama To Saliwu Riwawo serta masih
banyak lagi bangsawan Bone yang dibunuhnya.
Pada suatu hari dia melakukan
tindakan yang sangat memalukan yaitu mengganggu isteri orang. Karena didapati
oleh suaminya, ia lantas mengancam orang tersebut akan dibunuhnya, sehingga
orang tersebut melarikan diri. Untuk menutupi kesalahannya, isteri orang
tersebut yang dibunuh. Ia pun membakar sebahagian Bone sampai di Matajang dan
Macege. Orang Bone pun mengungsi sampai ke Majang.
Melihat orang Bone pada datang,
Arung Majang bertanya ; ”Ada apa gerangan di Bone?” Dengan ketakutan orang Bone
berkata ; ”Kami tidak bisa mengatakan apa-apa, Puang. Silahkan Puang melihat
sendiri bagaimana Bone sekarang”.
Mendengar laporan orang Bone, Arung
Majang keluar melihat ke arah Bone. Disaksikannyalah api yang melalap
rumah-rumah penduduk yang dilakukan oleh La Inca. Arung Majang lalu menyuruh
beberapa orang untuk pergi ke Palakka memanggil I Damalaka. Tidak lama kemudian
I Damalaka tiba di Majang. Sesampainya di rumah Arung Majang ia pun disuruh untuk
ke Bone menghadapi La Inca.
I Damalaka menyuruh salah seorang
untuk pergi menemui Arumpone dan menyampaikan agar tindakannya itu dihentikan.
Akan tetapi setelah orang itu tiba di depan La Inca, ia pun dibunuh. Setelah
itu , La Inca lalu membakar semua rumah yang ada di Lalebbata. Maka habislah
rumah di Bone.
Mendengar itu, Arung Majang pergi ke
Bone disusul oleh I Damalaka untuk menghadapi La Inca yang tidak lain adalah
cucunya sendiri. “Mari kita menghadapi La Inca, dia bukan lagi sebagai Arumpone
karena telah melakukan pengrusakan”. Berangkatlah semua orang mengikuti Arung
Majang termasuk I Damalaka.
Didapatinya La Inca sendirian di
depan rumahnya. Setelah melihat orang banyak datang, La Inca lalu menyerbu dan
menyerang membabi buta. Banyak orang yang dibunuhnya pada saat itu dan kurang
yang mampu bertahan, akhirnya La Inca kehabisan tenaga. Karena merasa sangat
payah, ia pun melangkah menuju tangga rumahnya. Ia bersandar dengan nafas yang
terputus-putus.
Melihat cucunya sekarat, Arung
Majang berlari mendekati dan memangku kepalanya. La Inca pun menghembuskan
nafasnya yang terakhir. Oleh karena itu disebutlah MatinroE ri Addenenna (meninggal
di tangga rumahnya).
Adapun anak La Inca MatinroE ri
Addenenna dari isterinya We Tenri Pakiu Arung Timurung MaccimpoE adalah ; La
Tenri Pale To Akkeppeang kawin dengan kemenakannya yang bernama We Palettei
KanuwangE anak dari We Tenri Patuppu dengan suaminya To Addussila. Kemudian La
Tenri Pale kawin lagi dengan We Cuku anak Datu Ulaweng. Dari perkawinan ini
lahirlah We Pakkawe kemudian melahirkan We Panynyiwi Arung Mare.
We Panynyiwi kawin dengan pamannya
sepupu dari ibunya MatinroE ri Bukaka. Dari perkawinan ini lahirlah We Daompo
yang kawin dengan La Uncu Arung Paijo. Lahirlah La Tenri Lejja. Inilah yang
melahirkan La Sibengngareng yang kemudian menjadi Maddanreng di Bone.
Anak La Inca berikutnya adalah We
Tenri Sello MakkalaruE kawin dengan kemenakannya yang bernama La Pancai To
Patakka Lampe Pabbekkeng, anak dari We Tenri Pala dengan suaminya To Alaungeng
Arung Sumaling. Lahirlah La Maddaremmeng MatinroE ri Bukaka, kemudian lahir
pula La Tenri Aji MatinroE ri Siang. Selanjutnya lahir We Tenri Ampa Arung
Cellu yang kawin dengan To MannippiE Arung Salangketo yang kemudian melahirkan
We Tenri Talunru.
Menggantikan sepupunya La Inca sebagai Mangkau’ di Bone.
Dikumpulkanlah seluruh orang Bone oleh Arung Majang. Kepada orang banyak, Arung
Majang berkata ; “Inilah cucuku yang bernama La Pattawe yang kita sepakati
menggantikan sepupunya”.
La Pattawe adalah anak La Panaongi
To Pawawoi Arung Palenna saudara kandung La Tenri Sukki MappajungE dari
isterinya We Tenri Esa’ arung Kaju. La Pattawe adalah anak Arung Palakka
turunan MakkaleppiE. Orang Bone sepakat untuk mengangkat La Pattawe menjadi
Mangkau’ di Bone.
La Pattawe Daeng Soreang kawin
dengan We Balole I Dapalippu Arung Mampu MassalassaE ri Kaju anak dari MatinroE
ri Itterung dari isterinya We Tenri Gau Arung Mampu yang selanjutnya melahirkan
We Tenri Patuppu MatinroE ri Sidenreng. We Tenri Patuppu melahirkan We Tenri
Pateya I Dajai yang kawin dengan La Pangerang Arung Maroanging.
Selanjutnya La Pattawe kawin dengan
We Samakella Datu Ulaweng saudara We Tenri Pakiu Arung Timurung, lahirlah We
Parappu Datu Ulaweng. Inilah yang kawin dengan La Papesa Datu Sailong anak dari
La Tenri Adeng Datu Sailong saudara laki-laki We Tenri Pakiu Arung Timurung.
La Tenri Ruwa MatinroE ri Bantaeng
kawin dengan sepupunya yang bernama We Baji yang biasa juga dinamakan We Dangke
LebaE ri Mario Riwawo. Dari perkawinan ini lahirlah We Tenri Sui Datu Mario Riwawo.
Inilah yang melahirkan La Tenri Tatta Petta To RisompaE dan nenek MatinroE ri
Nagauleng.
La Pattawe, tidak terlalu banyak
disebut langkah-langkahnya dalam pemerintahannya. Hanya dikatakan bahwa setelah
tujuh tahun menjadi Mangkau’ di Bone, ia pergi ke Bulukumba dan di situlah dia
sakit. Dia meninggal di Bettung sehingga disebut MatinroE ri Bettung.
We Tenri Patuppu menggantikan
ayahnya menjadi Arumpone. Inilah Mangkau’ yang mula-mula mengangkat Arung Pitu
(tujuh pemegang adat) di Bone. Ketujuh Matowa (Kepala Wanuwa) yang ditunjuk,
adalah ; Matowa Tibojong (Arung Tibojong), Matowa Ta’ (Arung Ta’), Matowa
Tanete (Arung Tanete), Tanete dipecah menjadi Tanete Riattang dan Tanete
Riawang, Matowa Macege (Arung Macege), Matowa Ujung (Arung Ujung) dan Matowa
Ponceng (Arung Ponceng).
We Tenri Patuppu berkata kepada
Arung PituE ; ”Saya mengangkat kalian sebagai Arung Pitu untuk membantu saya
dalam menyelenggarakan pemerintahan di Bone. Hal ini saya lakukan karena saya
adalah seorang perempuan yang tentunya memerlukan bantuan. Namun perlu kalian
tahu bahwa saya mengangkatmu menjadi pemegang adat, tetapi kalian tetap ; tidak
bisa melangkahi adat Bone, tidak bisa menyatakan perang, tidak bisa mewariskan
kepada anak cucu, kalau saya tidak mengetahuinya. Kacuali apabila duduk semua
turunan MappajungE kemudian direstui oleh Mangkau’ Bone.
Pada masa pemerintahan We Tenri
Patuppu di Bone, KaraengE ri Gowa datang ke Ajattappareng membawa agama Islam.
Sepakatlah TellumpoccoE (Bone, Soppeng dan Wajo) untuk menghalangi, sehingga
KaraengE ri Gowa kembali ke kampungnya.
Satu tahun kemudian datang lagi
KaraengE ri Gowa ke Padangpadang, dihalangi lagi oleh TellumpoccoE. Bertemulah
di sebelah timur Bulu’ Sitoppo dan terjadilah perang yang berakhir dengan
kekalahan TellumpoccoE.
Satu tahun kemudian datang lagi
KaraengE ri gowa ke Soppeng. Tetapi tidak ada lagi bantuan dari Bone dan Wajo,
sehingga Soppeng dikalahkan dan masuklah agama Islam di Soppeng. Datu Soppeng
yang menerima Islam bernama BeowE.
Setelah Soppeng menerima Islam,
datang KaraengE ri Gowa ke Wajo dan kalahlah orang Wajo. Arung Matowa Wajo yang
bernama La Sangkuru yang menerima Islam di Wajo. Sejak itu seluruh orang Wajo
memeluk Islam.
Tahun berikutnya setelah orang Wajo
masuk Islam, Arumpone We Tenri Patuppu pergi ke Sidenreng untuk menanyakan
tentang Islam. Ternyata begitu sampai di Sidenreng langsung masuk Islam. Di
Sidenrenglah beliau sakit yang menyebabkan meninggal dunia. Oleh karena itu
dinamakanlah We Tenri Patuppu MatinroE ri Sidenreng.
Semasa hidupnya We Tenri Patuppu
kawin dengan La Paddippung Arung Barebbo, kemudian melahirkan anak bernama La
Pasoro. Inilah yang kawin dengan We Tasi, lahirlah La Toge MatinroE ri
KabuttuE. La Toge kawin dengan We Passao Ribulu, lahirlah We Kalepu yang kawin
dengan Daeng Manessa Arung Kading.
Kemudian We Tenri Patuppu bercerai
dengan Arung Barebbo, maka kawin lagi dengan To LewoE Arung Sijelling, anak
Arung Mampu Riawa. Dari perkawinan ini lahirlah anaknya yang bernama La
Maddussila, We Tenri Tana, We Palettei, La Palowe. La Maddussila Arung Mampu
yang juga digelar MammesampatuE (memakai nisan batu). Pergi ke Soppeng dan
kawin dengan We Tenri Gella, saudara Datu Soppeng yang bernama BeowE. Dari
perkawinan ini lahirlah La Tenri Bali yang kawin di Bone dengan sepupu satu
kalinya yang bernama We Bubungeng I Dasajo.
We Bubungeng dan La Tenri Bali
melahirkan anak ; La Tenri Senge’ Toasa, inilah yang kemudian menjadi Datu
Soppeng. Yang kedua bernama We Yadda MatinroE ri Madello, kemudian menjadi Datu
juga di Soppeng.
We Tenri Tana Arung Mampu Riawa
kawin dengan LebbiE ri Kaju. Inilah yang melahirkan We Tenri Sengngeng yang
kawin dengan La Poledatu Rijeppo saudara Datu Soppeng anak La Maddussila Arung
Mampu MammesampatuE dengan isterinya We Tenri Gella. Inilah yang melahirkan La
PatotongE, La PasalappoE, La Pariusi Daeng Mangatta. La Pariusi Daeng Mangatta
inilah yang menggantikan Petta I Tenro menjadi Arung Mampu Riawa yang juga pernah
menjadi Arung Matowa Wajo.
La PallempaE atau La Pasompereng
Petta I Teko kawin dengan KaraengE ri Gowa. Dari perkawinannya lahirlah We Yama
dan We Alima. We Alima kawin dengan KaraengE ri Gowa Tumenanga ri Pasi.
Lahirlah I Baba Karaeng Tallo. La Pasompereng diasingkan oleh Kompeni sebab
perselingkuhan isterinya dengan Sule DatuE di Soppeng yang bernama Daeng
Mabbani. Dia membunuh Sule datuE di Soppeng maka diasingkanlah ke Selong.
Anak terakhir dari We Tenri Patuppu
MatinroE ri Sidenreng adalah ; We Palettei KanuwangE, kawin dengan pamannya La
Tenri Pale To Akkeppeang MatinroE ri Tallo. Tidak ada keturunannya, sehingga
MatinroE ri Tallo kawin lagi dengan anak Datu Ulaweng.
La Tenri Ruwa Arung Palakka juga
sebagai Arung Pattiro adalah sepupu We Tenri Patuppu MatinroE ri Sidenreng.
Ketika Arumpone meninggal dunia, orang Bone sepakat untuk mengangkat La Tenri Ruwa
menjadi Mangkau’ di Bone.
Belum cukup tiga bulan setelah
menjadi Mangkau’, datanglah KaraengE ri Gowa membawa agama Islam ke Bone. Orang
Gowa membuat benteng di Cellu dan Palette. Berkatalah Arumpone kepada orang
Bone ; ”Kalian telah mengangkat saya menjadi Mangkau’ untuk membawa Bone kepada
jalan yang baik. KaraengE ri Gowa datang membawa agama Islam yang menurutnya
adalah kebaikan. Sesuai dengan perjanjian kita yang lalu, siapa yang
mendapatkan kebaikan, dialah yang menunjukkan jalan. Oleh karena itu saya
mengajak kalian untuk menerima Islam”.
KaraengE ri Gowa berkata ;
”Menurutku Islam adalah kebaikan dan dapat mendatangkan cahaya terang bagi
kita. Oleh karena itu saya berpegang pada agama Nabi. Kalau engkau menerima
pendapatku, maka Bone dan Gowa akan menjadi besar untuk bersembah kepada Dewata
SeuwaE (Allah SWT).
Berkata lagi Arumpone kepada orang
banyak ; ’Kalau kalian tidak menerima baik maksud KaraengE padahal dia benar,
dia pasti masih memerangi kita dan kalau kita kalah berarti kita menjadi hamba
namanya. Tetapi kalau kalian menerima dengan baik, kita dijanji untuk berdamai.
Kalau kita melawan, itu adalah wajar. Jangan kalian menyangka bahwa saya tidak
mampu untuk melawannya”.
Ketika itu semua orang Bone menolak
Islam. Arumpone La Tenri Ruwa hanya diam, karena dia sudah tahu bahwa orang
Bone berpendapat lain. Pergilah Arumpone ke Pattiro dan hanya diikuti oleh
keluarga dekatnya. Sesampainya di Pattiro, ia mengajak lagi orang Pattiro untuk
menerima agama Islam. Ternyata orang Pattiro juga menolak.
Akhirnya Arumpone naik ke SalassaE
(istana) bersama keluarga dan hambanya. Ketika Arumpone ke Pattiro, orang Bone
sepakat untuk menjatuhkan La Tenri Ruwa sebagai Arumpone. Diutuslah La
Mallalengeng To Alaungeng ke Pattiro untuk menemui Arumpone. Kepada Arumpone La
Mallalengeng menyampaikan ; ”Saya disuruh oleh orang Bone untuk menyampaikan
bahwa bukan lagi orang Bone yang menolak engkau sebagai Mangkau’, tetapi engkau
sendiri yang menolak kami semua, karena pada saat Bone menghadapi musuh besar,
engkau lalu meninggalkannya”.
Arumpone menjawab ; Saya menyangkal
bahwa saya meninggalkan orang Bone, saya hanya menunjukkan jalan kebaikan dan
cahaya yang terang. Tetapi kalian tidak mau mengikutinya dan lebih suka memilih
jalan kegelapan. Makanya saya pergi meilih jalan kebaikan dan cahaya yang
terang itu yang diturunkan oleh Allah kepada Nabi-Nya”.
Ketika To Alaungeng kembali ke Bone,
Arumpone La Tenri Ruwa menyuruh salah seorang keluarganya ke Pallette untuk
bertemu dengan KaraengE ri Gowa yang sementara berkedudukan di Pallette. Begitu
pula KaraengE menyuruh Karaeng Pettu ke Pattiro menemui Arumpone. Sesampainya
Karaeng Pettu di Pattiro dan bertemu Arumpone, tiba-tiba tempatnya bertemu itu
dikepung oleh orang Pattiro bersama orang SibuluE. Arumpone sekeluarga bersama
Karaeng Pettu meninggalkan tempat menuju ke puncak gunung Maroanging.
Setelah itu, pergilah Arumpone
menemui KaraengE ri Gowa, sementara Karaeng Pettu tinggal menjaga Pattiro. Di
Pallette Arumpone La Tenri Ruwa ditanya oleh KaraengE ri Gowa ; ”Sampai dimana
batas kekuasaanmu. Sebab saya tahu bahwa Bone adalah milikmu, sementara menurut
berita bahwa akkarungeng telah berpindah di Bone”. Arumpone menjawab ; ”Yang
menjadi milikku adalah Palakka dan Pattiro begitu juga Awampone. Kalau Mario Riwawo
adalah milik isteriku”.
Berkata lagi KaraengE ; ”Sekarang
ucapkanlah syahadat, biar Palakka, Pattiro dan Awampone saja yang menerima
Islam. Untuk Bone biarkan saja tidak bertuan, Gowa tidak akan memperhambamu”.
Arumpone menjawab ; ”Karena saya akan mengucapkan syahadat, sehingga saya
kemari”.
Selanjutnya KaraengE ri Gowa berkata
; ”Saya juga tahu bahwa Pallette ini adalah milikmu, tetapi kebetulan tempat
berdirinya bentengku. Oleh karena itu saya menganggapnya sebagai milikku, namun
saya berikan kembali kepadamu”.
Kemudian KaraengE ri Gowa, Karaeng
Tallo dan Arumpone berikrar ; Pertama diucapkan oleh KaraengE ri Gowa dan
Karaeng Tallo ; ” Inilah yang akan dipersaksikan kepada Dewata SeuwaE bahwa
bukanlah turunan KaraengE ri Gowa dan Karaeng Tallo yang kelak akan mengganggu
hak-hakmu. Kalau ada kesulitan yang engkau hadapi, bukalah pintumu untuk kami
masuk pada kesulitan itu”. Lalu Arumpone menjawab ; ”Wahai Karaeng, ikat padiku
tidak akan terbuka, tidak sempurna pula kehidupanku dan apa yang ada dalam
pikiranku. Kalau ada kesulitan yang menimpa Tanah Gowa, biar sebatang bambu
yang dibentangkan, kami akan melaluinya untuk datang membantumu sampai kepada
anak cucumu dan anak cucuku, asalkan tidak melupakan perjanjian ini”.
Setelah ketiganya mengucapkan ikrar,
kembalilah Arumpone La Tenri Ruwa ke Pattiro. Lima hari setelah perjanjian itu diucapkan
bersama, dibakarlah Bone oleh orang Gowa. Menyerahlah orang-orang Bone dan
mengucapkan syahadat. Kemudian KaraengE ri Gowa dan Karaeng Tallo kembali ke
negerinya.
Sejak La Tenri Ruwa meninggalkan
Bone dan berada di Pattiro, sejak itu pula orang Bone menganggapnya bahwa dia
bukan lagi Mangkau’ di Bone. Kesepakatan orang Bone adalah mengangkat anak dari
MatinroE ri Sapananna (addenenna) yang pada saat itu menjadi Arung Timurung
yang bernama La Tenri Pale To Akkeppeang. Adapun La Tenri Ruwa setelah KaraengE
ri Gowa dan Karaeng Tallo kembali ke negerinya, diusir oleh orang Bone agar
meninggalkan Bone. Arumpone inilah yang dianggap mula-mula menerima agama Islam
dari KaraengE ri Gowa dan Karaeng Tallo.
La Tenri Ruwa MatinroE ri Bantaeng
berangkat ke Su’ (Mangkasar) dan tinggal pada Dato’ ri Bandang. Ia pun diberi
nama Arab yaitu Sultan Adam. Disuruhlah memilih tempat oleh Dato’ dan KaraengE
ri Gowa. Tempat yang dipilihnya adalah Bantaeng dan di Bantaenglah ia
meninggal, oleh karena itu dinamakan MatinroE ri Bantaeng.
La Tenri Ruwa kawin dengan sepupunya
yang bernama We Baji atau We Dangke LebaE ri Mario Riwawo yang kemudian disebut
juga Datu’ Mario Riwawo. Dari perkawinan ini lahirlah We Tenri Sui. We Tenri
Sui pernah juga kawin dengan To Lempe Arung Patojo saudara kandung Datu Soppeng
yang mula-mula memeluk Islam yang bernama BeowE. Dari perkawinannya lahirlah We
Bubungeng yang berarti bersaudara kandung dengan We Tenri Sui.
We Tenri Sui kawin dengan La
Pottobune Arung Tanatengnga Datu Lompulle, anak dari We Cammare Datu Lompengeng
MattendumpulawengE dari suaminya yang bernama To Wawo. Dari perkawinan ini
lahirlah La Tenri Tatta To Unru Datu Mario Riwawo. Ada juga yang bernama We
Tenri Abang. Selain itu, We Dairi (meninggal diwaktu kecil), We Tenri Wempeng
Daunru (meninggal diwaktu kecil), La Tenri Garangi (meninggal diwaktu kecil),
selanjutnya We Kacimpureng Daoppo Datu Marimari, tidak ada keturunannya.
We Bubungeng I Dasajo Arung Pattojo
diangkat menjadi datu di Watu, kawin dengan La Tenri Bali Datu Soppeng MatinroE
ri Datunna. Dari perkawinan ini lahirlah La Tenri Senge’ To Wesang dan We Yada
MatinroE ri Madello.
Arung Tanatengnga kemudian kawin
lagi dengan We Tenri Pada Datu Watu anak dari We Puampe dengan suaminya La Page
Datu Mario Riwawo.
Adapun La Tenri Tatta To Unru
diwariskan oleh ibunya untuk menjadi datu ri Mario Riwawo, sehingga digelar
sebagai Datu Mario Riwawo. La Tenri Tatta kawin dengan sepupunya yang bernama
We Dadda atau We Yadda anak dari We Bubungeng I Dasajo dari suaminya MatinroE
ri Datunna. Dari perkawinannya ini tidak melahirkan seorang anak, akhirnya
bercerai.
Isteri La Tenri Tatta yang paling
dicintainya adalah I Mangkawani Daeng Talele, tetapi juga tidak ada
keturunannya. Oleh karena itu La Tenri Tatta To Unru sampai akhir hayatnya
tidak memiliki keturunan.
Saudara kandung La Tenri Tatta yang
bernama We Tenri Wale Da Umpu Mappolo BombangE itulah yang menjadi Maddanreng
ri Palakka. Karena setelah La Tenri Tatta kembali dari Mangkasar, orang Bone
menobatkannya menjadi Arung Palakka. Mappolo BombangE kawin dengan La PakokoE
Arung Timurung yang juga Ranreng di Tuwa dan sebagai Arung di Ugi. Dari
perkawinan itu lahirlah seorang anak laki-laki La Patau Matanna Tikka WalinonoE
To Tenri Bali MalaE Sanrang MatinroE ri Nagauleng.
Sedangkan saudara kandung La Tenri
Tatta yang lain yang bernama We Tenri Abang Da Eba, itulah yang mengikutinya
sewaktu La Tenri Tatta To Unru pergi ke Jakarta. Oleh karena itu, La Tenri
Tatta menyerahkan kepada adiknya itu untuk menjadi Datu ri Mario Riwawo. We Tenri
Abang kawin dengan La Sule atau La Mappajanci Daeng Mattajang Karaeng Tanete,
turunan Karaeng Tallo. Dari perkawinannya itu lahir dua orang anak perempuan
yang bernama We Pattekke Tana Daeng Tanisanga dan We Tenri Lekke’.
We Pattekke Tana kawin dengan PajungE
ri Luwu MatinroE ri Langkanana yang bernama La Onro To Palaguna. Dari
perkawinannya itu lahirlah We Batara Tungke dan We Fatimah MatinroE ri Pattiro.
We Fatimah MatinroE ri Pattiro kawin dengan sepupunya yang bernama La Rumpang
Megga To Sappaile. Dari perkawinan itu lahirlah We Tenri Leleang Datu Luwu dan
La Oddang Riwu Daeng Mattinring atau La Tenri Oddang. Inilah yang menjadi Arung
Pattiro dan Datu Tanete. Selanjutnya melahirkan La Tenri Angke’ Datu Marimari.
Adapun anak Batara Tungke yang
bernama We Tenri Lekke saudara kandung We Pattekke Tana, kawin dengan La Pasau
Arung Menge yang juga sebagai Ranreng di Talotenre Wajo.
We Dangke LebaE ri Mario Riwawo
dengan suaminya To Lempe Arung Pattojo melahirkan We Bubungeng I Dasajo. We
Bubungeng I Dasajo inilah yang kawin dengan sepupu satu kalinya yang bernama La
Tenri Bali MatinroE ri Datunna, anak dari La Maddussila Arung Mampu
MammesampatuE. Dari perkawinan itu lahirlah La Tenri Senge’ To Wesang dan We
Yadda MatinroE ri Madello.
La Tenri Senge’ To Wesang kawin
dengan We Pada Daeng Masennang di Pammana, anak dari La Tenri Sessu To TimoE.
Dari perkawinannya lahirlah La Makkateru (meninggal dunia sewaktu kecil).
Selanjutnya lahir pula La Karidu yang kemudian menjadi Arung Sekkaili. La
Karidu kawin di Pammana dengan anak WatampanuwaE ri Pammana. Dari perkawinan
itu lahirlah La Mappassili Arung yang kemudian menjadi Arung Pattojo. La
Mappassili kawin di Tanete dengan Arung Lalolang yang kemudian melahirkan anak
laki-laki yang bernama La Barahima.
Selanjutnya La Mappassili kawin lagi
dengan We Tenri Leleang PajungE ri Luwu MatinroE ri Soreang, anak We Fatimah
Batara Tungke MatinroE ri Pattiro denganh suaminya La Rumpang Megga To Sappaile
MatinroE ri Suppa. Inilah yang melahirkan La Mappajanci Daeng Massuro PollipuE
ri Soppeng MatinroE ri Laburaung.
Anak berikutnya adalah We Tenri
Abang Datu Watu Arung Pattojo dan berikutnya bernama Janggo’ Panincong. Inilah
yang tewas dipenggal kepalanya oleh kemanakannya sendiri yang bernama Baso
Tancung pada Perang Batubatu. Dalam peristiwa itu, La Mappassili tewas terbunuh
oleh iparnya sendiri yang bernama La Oddang Riwu Daeng Mattinring Karaeng
Tanete.
Kembali kita bicarakan La Pottobune’
dengan isterinya We Tenri Pasa Datu Watu. Melahirkan anak yang bernama La Page
yang kemudian diwariskan untuk menjadi Datu di Lompulle. La Page bersaudara
dengan La Tenri Tatta Daeng Serang To Unru dari ayahnya. La Page Datu Lompulle
kawin dengan We Buka Datu Botto. Dari perkawinan itu lahirlah La Malleleang To
Panamangi Datu Lompulle dan juga Datu Mario Riwawo. Selanjutnya La Panamangi
kawin dengan We Mekko Datu Bakke, lahirlah We Tenri Datu Botto.
We Tenri Datu Botto kawin dengan
sepupu dua kalinya yang bernama La Temmu Page anak We Pattekke Tana Daeng
Tanisanga dengan suaminya yang terakhir yang bernama To Baicceng. We Tenri
dengan La Temmu Page melahirkan anak laki-laki yang bernama La Mallarangeng To
Samallangi, inilah yang kemudian menjadi Datu Lompulle dan Datu Mario Riwawo.
La Mallarangeng To Samallangi kawin dengan We Tenri Leleang janda dari La
Mappassili. Dari perkawinannya itu lahirlah La Maddussila Karaeng Tanete. La
maddussila inilah yang kawin dengan We Seno Datu Citta, anak dari La
Temmassonge MatinroE ri Malimongeng dengan isterinya yang bernama Sitti Habiba.
Selanjutnya We Tenri Leleang janda
dari La Mappassili yang kawin dengan La Mallarangeng To Samallangi melahirkan
We Panangareng Daeng Risanga Arung Cinennong Datu Mario Riwawo MatinroE ri
Ujungtana. We Panangareng Daeng Risanga kawin dengan La Sunra Datu Lamuru
MatinroE ri Lamangile, anak dari La Tenri Sanga Petta Janggo’E Datu Lamuru.
Kemudian We Tenri Leleang dengan La
Mallarangeng To Samallangi melahirkan La Tenri Sessu Arung Pancana, inilah yang
kawin dengan We Paddi Petta Punna BolaE anak dari Maddanreng Bone yang bernama
La Sibengngareng. Selanjutnya La Tenri Sessu kawin lagi dengan We Tenri Lawa
Besse Peyampo di Wajo, saudara kandung dari Arung Belle La Sengngeng MatinroE
ri Salawa’na.
We Tenri Leleang dengan La
Mallarangeng melahirkan lagi We Pada Daeng Malele, Fatimah Ratu Daeng Tacowa
MatinroE ri Sigeri, La Maggalatung To Kali Datu Lompulle yang juga sebagai Datu
Botto dan Batari Toja We Akka Daeng Matana Opu Datu ri Bakke. Inilah yang kawin
dengan PajungE ri Luwu yang bernama La Pattiware MatinroE ri Sabbamparu.
Ketika La Tenri Ruwa MatinroE ri Bantaeng diusir oleh orang
Bone, maka yang menggantikannya adalah sepupu satu kalinya yang bernama La
Tenri Pale To Akkeppeang Arung Timurung. Dia adalah anak dari La Inca MatinroE
ri Addenenna.
Inilah Mangkau’ di Bone yang membangkitkan
kembali semangat orang Bone untuk menolak masuknya agama Islam di Bone. Oleh
karena itu KaraengE kembali memerangi Bone, sehingga orang Bone kalah dan
menyerah. Diundanglah seluruh Palili (daerah bawahan) untuk disuruh mengucapkan
syahadat sebagai tanda bahwa seluruh orang Bone telah menerima agama Islam.
Setelah itu KaraengE ri Gowa kembali ke kampungnya.
La Tenri Pale To Akkeppeang dua
bersaudara yaitu We Tenri Jello MakkalaruE, kawin dengan Arung Sumaling yang
bernama La Pancai To Patakka. Dia juga digelar Lampe Pabbekkeng, anak dari La
Mallalengeng To Alaungeng Arung Sumaling, dari isterinya yang bernama We Tenri
Parola. Lahirlah La Maddaremmeng, diangkatlah MakkalaruE menjadi Arung Pattiro.
Satu lagi adik La Maddaremmeng
bernama We Tenri Ampareng, dia menjadi Arung Cellu. Sedangkan La Tenri Aji To
Senrima dia menjadi Arung di Awampone dan digelar MatinroE ri Siang.
We Tenri Sui kawin dengan La
Pottobune’ TobaE Arung Tanatengnga, lahirlah La Tenri Tatta To Unru, tidak ada
keturunannya. Anaknya yang kedua yaitu I Daunru. Inilah yang kawin dengan Datu
Citta yang bernama Todani yang menjadi Arung EppaE Ajattappareng yaitu ;
Addatuang Sidenreng, Datu Suppa, Addattuang Sawitto dan Arung Alitta. Bahkan dia
juga Karaeng di Galingkang.
Katika Todani memperisterikan
saudara La Tenri Tatta, dia mempersatukan Citta dengan Bone. Nanti setelah La
Temmassonge’ To Appaweling MatinroE ri Malimongeng menjadi Mangkau’ di Bone,
barulah Citta dikembalikan ke Soppeng. Namun akhirnya Todani disuruh bunuh oleh
La Tenri Tatta To Unru karena dianggap menyalahi kasiwiang (persembahan) di
Bone.
Sedangkan Saudara La Tenri Tatta To
Unru yang bernama We Tenri Abang Daeba, dialah yang dinamakan We Tenri Wale
MatinroE ri Bola Sadana. Digelar juga Mappolo BombangE dialah Maddanreng di
Palakka.
Satu tahun setelah orang Bone
menerima Islam, pergilah Arumpone ke Mangkasar menemui Dato’ ri Bandang.
Diberilah nama Arab yaitu Sultan Abdullah. Itulah nama Arumpone yang dibaca
pada khutbah Jumat.
Ketika menjadi Mangkau’ di Bone, La Tenri
Pale dikenal sangat ramah dan merakyat. Dia sangat memperhatikan masalah
pertanian. Arumpone inilah yang kawin dengan anak MatinroE ri Sidenreng dari
suaminya yang bernama To Addussila bernama We Palettei KanuwangE Massao BessiE
ri Mampu Riawa. Dari perkawinan ini lahirlah anak perempuan yang bernama We
Daba.
Selama menjadi Arumpone, La Tenri
Pale selalu bolak balik ke Gowa untuk menemui KaraengE ri Gowa. Ia meninggal di
Tallo sehingga digelar La Tenri Pale To Akkeppeang MatinroE ri Tallo.
|
|
Makam
La Maddaremmeng di Kalokkoe Bukaka Watampone Kab. Bone
|
La Maddaremmeng menggantikan
pamannya La Tenri Pale To Akkeppeang MatinroE ri Tallo menjadi Arumpone. Ketika
akan diangkat menjadi Mangkau’ di Bone, La Tenri Pale dengan orang Bone
berjanji bahwa ;
- La Tenri Pale ; ”Siapa yang mengingkari janji, dialah yang
menanggung resiko buruknya”
- Orang Bone ; ”Siapa yang berbuat kebaikan, dialah yang menerima
imbalan kebaikan itu”
Setelah saling mengiyakan
kesepakatan itu, maka diangkatlah La Tenri Pale To Akkeppeang Arung Timurung
menjadi Mangkau’ di Bone. Setelah beberapa waktu menjadi Arumpone, diadakanlah
penggalian bendungan di sebelah selatan Leppangeng. Selama tiga tahun digali,
ternyata airnya tak bakal naik. Dibawa lagi ke Sampano untuk membuat tiang
rumah, tiba-tiba La Tenri Pale kena penyakit. Kembalilah La Tenri Pale ke Bone.
Sesampainya di Bone, diundanglah seluruh
orang Mampu dan menyampaikan bahwa ; Berangkatlah ke Sidenreng untuk memanggil
keluargaku untuk datang memiliki kembali miliknya. Kemudian La Tenri Pale
berangkat ke Su (Mangkasar). Di Mangkasar (Tallo) ia meninggal dunia sehingga
dinamakan MatinroE ri Tallo.
Ketika orang yang disuruh ke
Sidenreng kembali, La Tenri Pale sudah tidak ada di Bone. Maka diangkatlah La
Maddaremmeng sebagai Arumpone, sebab dialah yang dipesan oleh pamannya untuk
menggantikannya bila sampai ajalnya. Arumpone inilah yang pertama membuat
payung putih untuk dipakai bila bepergian.
La Maddaremmeng kawin di Wajo dengan
perempuan yang bernama Hadijah I Dasenrima anak dari Arung Matowa Wajo yang
bernama La Pakallongi To Ali dengan isterinya We Jai Ranreng Towa Wajo yang
juga sebagai Arung Ugi. Dari perkawinan La Maddaremmeng dengan We Jai,
melahirkan seorang anak laki-laki bernama La PakokoE Toangkone yang digelar
TadampaliE. La PakokoE Toangkone kemudian diangkat menjadi Arung Timurung.
La PakokoE Toangkone kawin dengan
saudara perempuan La Tenri Tatta To Unru yang bernama We Tenri Wale Mappolo
BombangE Maddanreng Palakka. Anak dari We Tenri Sui Datu Mario Riwawo dengan
suaminya yang bernama La Pottobune Arung Tanatengnga. Dari perkawinannya itu
lahirlah La Patau Matanna Tikka MatinroE ri Nagauleng.
Selanjutnya La Maddaremmeng kawin
lagi dengan Arung Manajeng. Dari perkawinannya yang kedua itu lahirlah anak
laki-laki yang bernama Toancalo Arung Jaling. Inilah yang kawin dengan We Bunga
Bau Arung Macege, anak dari Karaeng Massepe dengan isterinya yang bernama We
Impu Arung Maccero. Toancalo Arung Jaling dengan We Bunga Bau Arung Macege yang
melahirkan Tobala Arung Tanete Riawang yang digelar Petta PakkanynyarangE.
Setelah menjadi Mangkau’ di Bone selama kurang lebih 15 tahun, Gowa kembali
melakukan serangan terhadap Bone yang akhirnya menaklukkannya. La Maddaremmeng
meninggal dunia di Bukaka, sehingga dia dinamakan MatinroE ri Bukaka.
Isteri La Maddaremmeng yang lain
bernama We Mappanyiwi Arung Mare, anak We Cakka Datu Ulaweng. Melahirkan
seorang anak perempuan yang bernama We Daompo. Inilah yang kawin dengan La Uncu
Arung Paijo. La Uncu Arung Paijo dengan We Daompo melahirkan La Tenri Lejja
RiwettaE ri Pangkajenne. Inilah yang melahirkan To Sibengngareng Maddanreng
Bone. Sumber Teluk Bone.
BONE
BRIEF
HISTORY
The Bugis state of Bone was founded
ca.1350, when a union between the seven ancient states of Ujung, Tibojong, Ta,
Tanete Riattang, Tanete Riawang, Ponceng and Macege was effected by Mata
Selompu. He was invited by the advisory council of seven lords to become the
first supreme ruler of the Bone federation. In 1582 Bone, together with Soppeng
and Wajo, founded the Tallumpocco alliance which dominated the region for many
decades. Islam became the state religion in 1608 when the Arumponi converted
and adopted the personal title of Sultan.
During the next half-century the
state was conquered by Gowa several times, in 1611, 1640 and finally in 1644.
On the last occasion it lost its independence and became subject to Makassar.
It took another twenty years before Bone regained its independence under 'Arung
Palakka' in the 1660's. He developed the Bugis into a great maritime
power who allied themselves with the Dutch and dominated the islands for nearly
a century.
Relations with the Dutch remained
relatively stable until the early years of the twentieth century. However, when
the Dutch dispatched a pacification force in 1905, the Arumponi fled into the
jungles with his nobles and warriors, and prepared for war. After evading
troops, he was captured, deposed and exiled to Java.
A Council of Nobles administered
Bone after 1905, but self-rule was restored in 1931. La Mappanjuki Karaeng
Silayar, younger son of the deposed Sultan of Gowa and a grandson of a former
Arumponi succeeded. The new ruler served with his father against the Dutch
invasion in 1905 and shared his exile for several years. He proved to be no
friend of Holland, siding with the Javanese republicans during the independence
struggle. He therefore retained an honoured place during the post independence
period, occupying several important offices in the provincial administration.
His name is revered as one of the founders of Indonesian independence.
STYLES & TITLES:
The ruling prince: (personal name)
(personal titles) Sri Sultan (reign name) ibnu (father's
titles and reign name), Arumponi of Bone, with the style of His Highness.
The Heir Apparent: Arung Palakka.
The other sons, grandsons and other male descendants of the
ruling prince, in the male line: Andi (personal name) (personal
titles)
The daughters, granddaughters and other female descendants
of the ruling prince, in the male line: Andi Siti (personal name) (personal
titles)
RULES OF SUCCESSION:
Selection by the Aruppitu from any member of the
dynasty who is of Royal descent through both parents.
ORDERS & DECORATIONS:
None known.
GLOSSARY:
Adat: traditional customs, status.
Aru:
installation ceremony including the act of holding a kris or sword and taking
an oath of feilty.
Arumponi:
"Lord of Bone", the title borne by the supreme ruler of Bone.
Arung:
lord, noble, ruler.
Arung
Palakka: "Lord of Palakka", the title borne by the heir
apparent of Bone.
Aruppitu:
"the seven lords", a term applied to the rulers of the seven original
states of the federation.
Bicara:
process of law.
Bissu:
pre-Islamic holy man, intermediary between the spirit and mortal worlds.
Bundu'kasallannga: a term applied to the Islamisation wars of the early
seventeenth century.
core-core: pre-Islamic holy women, intermediary between the spirit
and mortal worlds.
Daeng
Kalula: an early title for the head of a community or state.
Datu:
ruler, prince.
Gaukeng:
sacred object.
Gellareng: head of a village or region.
Hadat
Tinggi: the Makassar House of Lords established under the East
Indonesian Federal regime 1946-1950.
I
La Galigo: the earliest known Bugis epic chronicling the
legendary history of Luwu.
Kafir:
unbeliever.
Kali:
the chief Islamic official in the kingdom.
Kawerrang: a bundle of rice stalks bound together. A term applied to
the core of seven states forming the original union of the Bone kingdom.
Latoa:
a "Mirror of Kings" chronicling the wisdom of the ages and a guide
for good government.
Mado:
an early title for community leader.
Makkedangetana: "the spokesman of the land", the most senior
office in the land after the ruler. A title often equated with Prime Minister.
Matoa
Pitu: "seven elders". A term applied to the supreme council
composed of the rulers of the seven original states of the federation.
Pajumpulaweng: the golden umbrella, the most important piece of regalia.
Pesse:
"pain", i.e. empathy with one's fellow man. A term applied to the
spiritual unity of the people.
Punggawa:
commander-in-chief during wartime.
Raja
Muda: heir apparent, viceroy.
Samparajae: "the great defender", the ruler's standard, an
important part of his regalia.
Sarat:
Islamic religious council.
Sembangang pulaweng: gold chains with pendant medals forming
part of the regalia, but originally bestowed by European powers on earlier
rulers.
Siri:
face, as in self-respect or worth.
Tautongang: gentry, lower nobility.
Tellumpocco: "the three powers", a term applied to the
historic triple alliance between Bone, Wajo and Soppeng.
Tomarilaleng Malolo: a high official who serves as the
intermediary between the Makkedangetana and the Supreme Advisory Council.
Tomarilaleng Matoa: the President of the Supreme Advisory
Council.
Tomanurung: "he/she who descended", a term applied to the
legendary rulers of the state and their descendants.
Torisompai: 'he who is given obeisance', a term of address applied to
the Arumponi during the reign of Arung Palakka.
Watampone: "the trunk of Bone", a term applied to the seven
original states of the federation, after the expansion of the kingdom to
include other states.
SOURCES:
Abdurrazak daeng Patunru, Sedjarah
Goa. Jajasan Kebudajaen Sulawesi Selatan dan Tenggara, Makassar, 1967.
Leonard Y. Andaya, The Heritage of
Arung Palakka: A History of South Sulawesi (Celebes) in the Seventeenth
Century. Verhandelingen van het Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en
Volkenkunde, The Hague, 1981.
A. Ligtvoet, "Transcriptie van
de Lontara-Bilang of het Dagboek der Vorsten van Gowa en Tello", Bijdragen
tot de Taal-, Land- en Volkenkunde van Nederlandsch-Indië, Vierde
Volgteeks, Vierde Deel - 1e stuk. Koninklijk Instituut voor Taal-,
Land- en Volkenkunde, The Hague, 1880. pp 1-259.
J. Noorduyn, Bima en Sumbawa:
Bijdragen tot de geschiedenis van de sultanen Bima en Sumbawa door A. Ligtvoet
en G.P. Rouffaer. Foris Publications, Dordrecht-Holland, 1987.
I Jereef, Wilhelmus Theodorus, De wind en de bladeren. Hierarchie en autonomie
in Bone en Polombangkeng, 1850-1950, Rijksuniversiteit Groningen, 1994.
SPECIAL ACKNOWLEDGEMENT:
D. Tick, Pusat Dokumentasi Kerajaan-Kerajaan di Indonesia
"Pusaka".
GENEALOGY
1392-1424 Mata Selompu Mapololiteng [Manurung-ri Matajang],
Arumpone of Bone. Elected by the Aruppitu as ruler of Bone with the
title of Arumpone of Bone after a long period of chaos lasting seven
generations. m. To' Manurung-ri Toro. He d. ca. 1424, having had
issue, two sons and four daughters:
1) Bolong-lelang. He d.s.p.
2) La Wumassa To' Mulaiye Panra,
Arumpone of Bone - see below.
1) We Tan-ri Ronrong. She d.s.p.
2) Pantara Wanuwa. m. La
Patikkengki, Arung Palakka. She had issue, two sons and two
daughters:
a) La Tan-ri Longorang, of Jallo.
b) La Saliwu Karaeng Pelua'
Pasadowakki, Arumpone of Bone - see below.
a) We Tan-ri Pappang. m. La
Tan-ri Lappang, Arung Kaju. She had issue, three sons:
i) La Tan-ri Jallo.
ii) La Tan-ri Akka.
iii) La Tan-ri Bali, Arung Kaju.
m. We Ban-ri Gau Daeng Marawa Makalappi Bisu-ri La Langpili Patta-ri La
We Larang Malajangi-ri Jina, Arumpone of Bone (d. ca. 1490), daughter of
La Saliwu Karaeng Pelua' Pasadowakki, Arumpone of Bone. He had issue, seven
sons and two daughters - see below.
b) We Tan-ri Ronrong. m. La
Paonro, Arung Pattiru. She had issue, a son:
i) La Sattia. m. We Tan-ri
Bali.
3) We Tan-ri Salogan. m. La
Ranringmusu, Arung Uting. She had issue:
a) Baittie. m. La Tanrowaji.
4) We Arantiega. m. La
Patongarang, Arung Tanette. She had issue, a son:
a) La Tan-ri Pamidu La Pellong.
1424 - 1441 La Wumassa [To' Mulaiye Panreng], Arumpone of
Bone, eldest son of Mata Selompu Mapololiteng, Arumpone of Bone. Succeeded on
the death of his father, ca. 1366. m. (morganatic) a daughter of Matowa
Chiong. He d. ca. 1398, having had issue, two sons (not in
line of succession):
1) To' Sawaling.
2) To' Salawakkang.
1441 - 1470 La Saliwu Karaeng Pelua' [Pasadowakki], Arumpone
of Bone, eldest son of La Patikkengki, Arung Palakka, by his
wife, Pantara Wanua, eldest daughter of Mata Selompu Mapololiteng, Arumpone of
Bone. Succeeded his maternal uncle, ca. 1441. m. (first) We Tan-ri
Rompong, daughter of Arung Patjing. m. (second) We Tan-ri Pawallu,
daughter of Arung Tanette. m. (third) We Tan-ri Pamidu, daughter of
Arung Tanette. He d. ca. 1470, having had issue, one son and two daughters:
1) La Mapasassu (s/o We
Tan-ri Pawallu). m. We Tan-ri Lekka. He had issue, one son and four
daughters:
a) La Tan-ri Gielieng Magadienge.
a) We Tan-ri Bole.
b) We Tan-ri Isa. m. Arung
Palanna.
c) We Tan-ri Lotong.
d) We Tan-ri Sungki. m. La
Tan-ri Sukki Mappajungi, Arumpone of Bone, eldest son of We Ban-ri Gau Daeng
Marawa Makalappi Bisu-ri La Langpili Patta-ri La We Larang, Arumpone of Bone -
see below.
1) We Ban-ri Gau, Arung Majang,
who succeeded as We Ban-ri Gau Daeng Marawa Makalappi Bisu-ri La Langpili
Patta-ri La We Larang (s/o We Tan-ri Rompong) - see below.
2) We Tan-ri Ori (d/o We
Tan-ri Pamidu).
1470 - 1490 We Ban-ri Gau Daeng Marawa Arung Majang
Makalappi Bisu-ri La Langpili Patta-ri La We Larang [Malajangi-ri Chiena],
Arumpone of Bone, daughter of La Saliwu Karaeng Pelua' Pasadowakki, Arumpone of
Bone. Styled Arung Majang before her accession. Succeeded on the
death of her father, ca. 1470. m. La Tan-ri Bali, Arung Kaju,
son of La Tan-ri Lappang, Arung Kaju, by his wife, We Tan-ri
Pappang, daughter of La Patiengki, Arung Palakka. She d.
ca. 1490, having had issue, seven sons and two daughters:
1) La Tan-ri Sukki Mappajungi,
Arumpone of Bone - see below.
2) La Tan-ri Garra Arung Majang. m.
We Tan-ri Sumpala, daughter of Arung Mampua. He had issue, two sons and two
daughters:
a) La Tan-ri Sumpu To' Saliwu-ri
Awang.
b) La Pasci. m. I-Mangiele.
a) Mangampe Walieda. m. La
Gome To' Saliwu Madanrang Palakka. She had issue, a son:
i) La Saliwu.
b) We Tan-ri Tippa.
3) La Tan-ri Garra To' Apasabie. He d.
unm.
4) La Panawungi To' Wapawawoi. m.
We Tan-ri Isa. He had issue, three sons and one daughter:
a) La Bata.
b) La Patawang, Arumpone of Bone -
see below.
c) La Palippui.
d) La Manaung, Arung Lotong. m.
(first) a daughter of Daeng Sagala Arung Palama. m. (second) We
Mapasurung Sukku Manasa, daughter of Arung Patchieng. He had issue, by his
second wife, three sons and one daughter:
i) Daeng Kallieng.
ii) La Sangrangang.
iii) La Karamuso.
i) La Maliung (eldest child).
a) Daeng Soreang Arung Kaju.
5) La Patadungi To' Pasampoi. m.
Malu.
6) La Tan-ri Galla Datta-ri Gas.
7) La Tanampara.
1) We Tan-ri Taluru Datta-ri Pali. m.
To' Tanri Pallaka. She had issue, two daughters:
a) We Tan-ri Isa.
b) We Tan-ri Palessi. m. La
Taubawang, Arung Biru. She had issue, two sons:
i) La Gome To' Saliwu Madanrang
Palakka.
ii) La Tan-ri Sampuri To' Saliwu-ri
Awang Arung Awang Pone. He had issue, a son:
1) La Tona Matowa Bulu.
2) We Tan-ri Samungang. m. La
Tan-ri Magadienge Arung Pattiru. She had issue, a son:
a) We Tan-ri Iwang Daeng Rae. m.
Luliwu, 6th Arumpone of Bone - see below.
1490 - 1517 La Tan-ri Sukki Mappajungi, Arumpone of Bone,
eldest son of We Ban-ri Gau Daeng Marawa Makalappi Bisu-ri La Langpili Patta-ri
La We Larang, Arumpone of Bone. Succeeded on the death of his mother, ca. 1490.
Successfully repulsed a major invasion by Datu Kelali, the ruler of Luwu. m.
We Tan-ri Sungki, youngest daughter of his maternal uncle, La Mapasassu, by his
wife, We Tan-ri Lekka. He d. 1517, having had issue, a son:
1) La Wulio Boti, Arumpone of Bone -
see below.
1) We Tan-ri Galla. m. Opu Dala
Arung Kung. She had issue, four daughters:
a) We Tan-ri Gau [We Tan-ri Pakuwa].
She d. unm.
b) We Tan-ri Passi.
c) We Tan-ri Ruwa.
d) We Tan-ri Liwang.
2) To' Malotongi Daeng Rae. She d.
unm.
1517 - 1542 La Wulio Boti [MatinroE-ri Tarrung], Arumpone of
Bone, son of La Tan-ri Sukki Mappajungi, Arumpone of Bone, only son of La
Tan-ri Sukki Mappajungi, Arumpone of Bone, by his wife, We Tan-ri Sungki.
Succeeded on the death of his father, 1517. He was the first Ranreng. m.
(first) We Tan-ri Iwang Daeng Rae, daughter of La Tan-ri Magadienge Arung
Pattiru, by his wife, We Tan-ri Samungang, younger daughter of We Ban-ri Gau
Daeng Marawa Arung Majang Makalappi Bisu-ri La Langpili Patta-ri La We Larang
[Malajangi-ri Chiena], Arumpone of Bone. m. (second) We Tan-ri Gau,
daughter of the Arung of Mampua. He d. 1542, having had issue, four sons
and several daughters, including:
1) La Icha, 8th Arumpone
of Bone (s/o We Tan-ri Iwang) - see below.
2) La Tan-ri Rawe Bongkange,
Arumpone of Bone (s/o We Tan-ri Iwang) - see below.
3) Sakurudaji (s/o We Tan-ri
Gau).
4) Daeng Palipuna (s/o We
Tan-ri Gau). m. Daeng Soreang, of Kaiyu. He had issue, three daughters:
a) We Tan-ri Parola. m. La
Patiekka Arung Sumaling. She had issue, one son and three daughters:
i) La Petappirang La Pachai.
i) We Tan-ri Bakarang.
ii) We Tan-ri Berawang. m. La
Sada.
iii) We Tan-ri Wempengang. m.
La Uncha Arung Paiju.
b) We Tan-ri Pati. m. La
Parenrengang, Arung Maraongieng. She had issue, two daughters:
i) La Bie Maroangieng. m. La
Tan-ri Anglisu Arung Urang. She had issue:
(1) Puwanna Challa.
ii) La Bie-Kayu. m. La Tan-ri
Ranrang, son of I-Dangka We Tan-ri Tuppu, Arumpone of Bone, by her first
husband, To' Rilettowi, Arung Mampua. She had issue, a son - see below.
c) I-Dangka We Tan-ri Tuppu, Arumpone
of Bone (d/o Daeng Palipuna) - see below.
1) We Tan-ri Pakuwa [We Tan-ri
Pauang] (d/o We Tan-ri Iwang). m. La Makkaroda To' Tan-ri Bali,
12th Daeng Soppeng-ri Lau, and 12th Datu Mario-ri Wawo,
son of We Muliang, 11th Daeng Soppeng-ri Lau, and 11th
Datu Mario-ri Wawo, daughter of We Temmabuleng, 10th Datu Mario-ri
Wawo. She had issue, a daughter:
a) We Tan-ri Lekke La Bie-ri Mario
I-Dakka Mangka, 13th Datu Mario-ri Waw. m. (first) La
Tan-ri Ruwa Paduka Sri Sultan Adam, Arumpone of Bone, son of La Saliwu, Arung
Pattiru, by his wife, We Limpa, younger daughter of La Wulio Boti,
Arumpone of Bone. She had issue - see below. m. (second) Tosinga, of
Patoosje. She had further issue, by her second husband:
i) a daughter. m. Datu of
Soppeng.
2) We Limpa (d/o We Tan-ri
Iwang). m. La Saliwu, Arung Pattiru. She had issue, a son:
a) La Tan-ri Ruwa, Arung Palakka,
who succeeded as La Tan-ri Ruwa Paduka Sri Sultan Adam, Arumpone of Bone - see
below.
3) Daeng Rae Matinruwi-ri Bichuri (d/o
We Tan-ri Iwang).
1542 - 1584 La Tan-ri Rawe Bongkange [MatinroE-ri Guchina],
Arumpone of Bone, elder son of La Wulio Boti, Arumpone of Bone. Succeeded on
the death of his father, 1542. m. We Tan-ri Pakiu, Arung Timurang
(m. second, 1584, La Icha [MatinroE-ri Adenena], Arumpone of Bone). He d.s.p.
1584, having had issue:
1) La Magalatung. He d. unm.
2) Puwanna-ri Sompa.
1584 - 1595 La Icha [MatinroE-ri Adenena], Arumpone of Bone,
second son of La Wulio Boti, Arumpone of Bone. Succeeded on the death of his
elder brother, 1584. m. 1584, We Tan-ri Pakiu, Arung Timurang,
his brother's widow. He was k. by his subjects, on the stairs of his
palace, 1595, having had issue, one son and two daughters:
1) La Tan-ri Pala To'Akkepeang
Paduka Sri Sultan 'Ala ud-din, Arumpone of Bone (s/o We Tan-ri Pakiu) -
see below.
1) We Tan-ri Jallo. m. La
Patikka, Arung Sumaling. She had issue, two sons, and one
daughter.
a) La Ma'darammang, who succeeded as
H.H. La Ma'darammang Opu Na Pakokoa Paduka Sri Sultan Saleh ibni al-Marhum
Sultan Adam, Arumpone of Bone - see below.
b) La Tan-ri Aji To' Sanrima Arung
Kung [MatinroE-ri Siyang]. Forced to flee to Luwu, together with his brother, 8th
October 1643. Secretly returned to Bone and raised a rebellion November 1643.
Defeated in the second battle of Passempi, taken prisoner and removed to Gowa,
1644. He was k. on an expedition to Siang, 18th March 1645.
a) We Tan-ri Amparang. m. To'
Nippi, Arung Salangketo.
2) I-Makkalaruwa. She had issue.
15xx - 1590 La Patawang [MatinroE-ri Battu], 9th
Arumpone of Bone, grandson of Barrigau, Arumpone of Bone, son of La Panawungi
To' Wapawawoi. Succeeded on the death of his brother-in-law, 1590. m. Arung
Kaju (d.s.p.). He was k. by his relatives,
1590
1590 - 1607 I-Dangka We Tan-ri Tuppu [MatinroE-ri
Sidenreng], Arumpone of Bone, only daughter of Daeng Palipuna, by his wife,
Daeng Soreang, of Kaiyu. Succeeded on the death of her father, 1590. Abdicated
in favour of her husband as rule by females was not in keeping with Islam,
1607. m. (first) To' Rilettowi, Arung Mampua. m. (second) Arung
Barabo. m. (third) La Tan-ri Ruwa Paduka Sri Sultan Adam [MatinroE-ri
Bantaeng], Arumpone of Bone (d. 28th October 1631), son of La
Saliwu, Arung Pattiru, by his wife, We Limpa, younger daughter of
La Wulio Boti, Arumpone of Bone - see below. She had issue, two sons and two
daughters by her first husband, and one son by her second:
1) La Tan-ri Ranrang (s/o
Arung Mampua). m. La Bie-Kayu, daughter of La Parenrengang, Arung
Maraongieng, by his wife, We Tan-ri Pati, younger daughter of Daeng
Palipuna. He had issue, a son:
a) La Tan-ri Sienga. m. Pole
Datu. He had issue, four sons and one daughter:
i) La Pariasi.
ii) La Palemba.
iii) La Pasampo.
iv) La Pasomparrang.
i) Daeng Akke.
2) La Madusila (s/o Arung
Mampua). m. a Princess of Soppeng, mother of La Tan-ri Baang Datu
Soppeng.
3) La Pasaro (s/o Arung
Barabo). m. a lady from Roe. He had issue, a son:
a) La Toga. m. Arung Matuju.
1) Kunangi (d/o Arung
Mampua). m. La Tan-ri Pala To' Wakepeyang Paduka Sri Sultan 'Ala ud-din,
Arumpone of Bone (d. at Tallo, 13th August 1630), son of La
Icha, Arumpone of Bone, by his wife, We Tan-ri Pakiu, Arung Timurang
- see below.
2) Maputi Iesina (d/o Arung
Mampua).
1607 - 1608 La Tan-ri Ruwa Paduka Sri Sultan Adam
[MatinroE-ri Bantaeng], Arumpone of Bone, son of La Saliwu, Arung Pattiru,
by his wife, We Limpa, younger daughter of La Wulio Boti, Arumpone of Bone.
Appointed as Arung Palakka. Succeeded on the abdication of his
first wife, 1607. Deposed for urging his people to accept Islam, 1608. m.
(first) We Tan-ri Lekke La Bie-ri Mario I-Dakka Mangka, 13th Datu
Mario-ri Wawo, daughter of La Makkaroda To' Tan-ri Bali, 12th
Daeng Soppeng-ri Lau, and 12th Datu Mario-ri Wawo, by his wife, We
Tan-ri Pakuwa, eldest daughter of La Wulio Boti, Arumpone of Bone. m.
(second) We Tan-ri Soloreng, Datu Pattiru. He d. 28th
October 1631, having had issue, two daughters:
1) We Tan-ri Suwi, 14th Datu
Mario-ri Wawo (d/o La Bie-ri Mario). m. La Pottobunna, Arung
Tanatenga, Datu Lompulle', son of Datu Udampule, Arung Tanatenga,
a nobleman from Soppeng. She d. ca. 1660, having had issue, two sons and
nine daughters:
a) Arung Tanatenga. b.
before 1634. He d. before 1678, having had issue:
i) Arung Toala'.
b) H.H. La Tan-ri Tatta To' Urong
To-ri Sompi Patta Malampei Gammana Daeng Serang To' Appatunru Paduka Sri Sultan
Sa'ad ud-din - see below.
a) Daeng Ira.
b) We Tan-ri Lekki Daeng Emba. m.
(first) To' Malagu, Datu of Luwu. m. (second) I-Mappajanji Daeng
Matayang Kasim, Karaeng of Tanette (b. 21st February 1649
d. 9th May 1716), second son of Daeng Matiring Ibrahim, Karaeng
of Tanette, by his wife, I-Tumbu, daughter of a King of Gowa. She had issue,
two daughters - see Indonesia (Tanette).
c) We Kajupa Daeng Ompu, Datu
Chitta. m. To' Dani Daeng Chitta Arung Bakka, Adatuwang of Sawito (m.
second (div. 1678), her younger sister, We Tan-ri girang. m.
third, a princess of Sawitto, and was k. at Salemo, 11th
February 1681). She d. 19th December 1702.
d) We Te' Mappolo-bombang Daeng Upi
[MatinroE ri-Alaoena-Apasarang]. b. after 1635. m. at Ujung
Pandang, 16th May 1671, La Pakkoku To' Angkone Taddampali, Arung
Timurang, Arung Ugi, and Arung Ranreng Tua,
younger son of La Ma'darammang Opu Na Pakokoa, Arumpone of Bone. She d.
12th March 1692, having had issue, two sons - see below.
e) We Tan-ri Wempeng.
f) We Tan-ri Abang Daeng Emba, 16th
Datu Mario-ri Wawo. m. I-Mappajanji Daeng Matayang
Kasim, Karaeng of Tanette (b. 21st February 1649 d. 9th
May 1716), second son of Daeng Matiring Ibrahim, Karaeng of Tanette, by his
wife, I-Tumbu, daughter of a King of Gowa. She d. 22nd May
1698, having had issue, a daughter - see Indonesia (Tanette).
g) Datu Mari-mari. She d. 18th
January 1702.
h) Arung Meru. She d. 8th
September 1703.
i) We Tan-ri Girang. m. (div.
1678) To' Dani Daeng Chitta Arung Bakka, Adatuwang of Sawito (k. at
Salemo, 11th February 1681) - see Indonesia (Sawito).
2) We Tan-ri Tello. She d. 17th
August 1686.
1608 - 1626 La Tan-ri Pala To' Wakepeyang
Paduka Sri Sultan 'Ala ud-din [MatinroE-ri Tallo], Arumpone of Bone, son of La
Icha, Arumpone of Bone, by his wife, We Tan-ri Pakiu, Arung Timurang.
Styled Arung Timurung before his accession. Raised to the throne
on the deposition of Sultan Adam, 1608. The first ruler to embrace Islam when
he assumed the title of Paduka Sri Sultan 'Ala ud-din,
1611. He fled to Tallo with his son, 1626. m. (first) ca. 1597, We
Tan-ri Wajo, elder daughter of La Mappepulu To' Appamole, Arung Matowa of Wajo,
by his wife, We Temmaduppa, daughter of the Arung Lompengang. m.
(second) Daeng Male, Arung Paneki, widow of La Tan-ri
Semputungeng Passari, Datu Pammana. m. (third, or first?)
Kunangi, elder daughter of I-Dangka We Tan-ri Tuppu [MatinroE-ri Sidenreng],
Arumpone of Bone, by her first husband, To' Rilettowi, Arung Mampua. He d.
at Tallo, 13th August 1630, having had issue, two sons and one
daughter:
1) Daeng Pabila. Fled to Tallo with
his father, 1626. Punggwa (C-in-C) of the Bone forces. Secretly returned
to Bone with Arung Kung and raised a rebellion November 1643. Defeated in the
second battle of Passempi, taken prisoner and removed to Gowa, 1644. Escaped
and returned to Bone, 7th August 1660. He was k. (executed)
on the orders of Sultan Sa'ad ud-din, May 1673.
2) Patta Ujung (s/o Kunangi).
He had issue, a son:
a) Matinrowe-ri Ujusuna. He had
issue, a son:
i) Matinrowe-ri Karusi. He had
issue, one son and one daughter:
(1) Matinrowe-ri Lompu. Tomarilalang.
(1) Arung Tajung. m.
Matinrowe-ri Salassana, sometime Pungwwa of Luhu.
1) Daeng Abba (d/o Kunangi). m?
H.H. I-Mannuntungi Daeng Mattula Karaeng Ujung Karaeng Lakiung Paduka Sri
Sultan Muhammad Malik us-Said ibni al-Marhum Sultan 'Ala ud-din [Tumenanga-ri
Papambatuna], Sultan of Gowa (b. 11th December 1605; d.
6th December 1653), eldest son of I-Manga'rangi Daeng Manra'bia
Paduka Sri Sultan 'Ala ud-din, Sultan of Gowa, by his wife, I-Mainung Daeng
Mattyini Karaeng Bontowa (d. 12th May 1648), elder daughter
of Daeng Melu Karaeng Kasaurrang - see Indonesia (Gowa).
1626 - 1643 H.H. La Ma'darammang Opu Na Pakokoa Paduka Sri
Sultan Saleh ibni al-Marhum Sultan Adam [MatinroE-ri Bukaka], Arumpone of Bone
(first time) - see below.
1643 - 1660 To' Bala', Arung Tanete Riawang. Regent
appointed by Gowa with the title of Jennang, November 1643.
Rebelled against Gowan rule, 7th August 1660.
1660 - 1667 Arung Amali. Regent
appointed by Gowa with the title of Jennang.
1626-1643 and 1667-1672 H.H. La Ma'darammang Opu Na Pakokoa
Paduka Sri Sultan Saleh ibni al-Marhum Sultan Adam [MatinroE-ri Bukaka],
Arumpone of Bone, son of La Patikka, Arung Sumaling, by his wife,
We Tan-ri Jallo, eldest daughter of La Icha, Arumpone of Bone. Succeeded on the
deposition of his uncle, 1626. Forced to flee to Luwu, together with his
brother, 8th October 1643 when attacked by the forces of Gowa, Wajo
and Soppeng. Restored by the Makassarese, February 1667. Deposed 1672 m.
(first) 1630, as her second husband, I-Khadija Daeng Saleng, Arung Ugi,
younger daughter of La Pakallongi To' Allinrungi, Arung Matowa of Wajo, by his
second wife, Daeng Page, daughter of La Mataesso. m. (second) We
Manjili. He d. at Bukaka, 5th August 1678, having had issue,
three sons and one (or three) daughters:
1) La Pakkoku To' Angkone
Taddampali, Arung Timurang, Arung Ugi, and Ranreng
Tua (s/o Daeng Saleng). m. at Ujung Pandang, 16th
May 1671, We Te' Mappolo-bombang Daeng Upi [MatinroE ri-Alaoena-Apasarang] (b.
after 1635; d. 12th March 1692), daughter of La Pottonune, Arung
Tanate, by his wife, We Tan-ri Sui, Datu Mario-ri Wawo, daughter
of La Tan-ri Rua Sultan Adam, 11th Arumpone of Bone. He d. 19th
March 1697, having had issue, two sons:
a) La Magalatung.
b) H.H. La Patau Paduka Sri Sultan
Idris Azim ud-din, 15th Arumpone of Bone - see below.
2) Daeng Memang.
3) To' Passarai.
1) Daeng Umpu (d/o Daeng
Saleng). m. La Anchu Arung Paijo. She had issue, a son:
a) La Tan-ri Lesang, Pangkajene.
2)? …, who had issue:
a) La To' Masonge, Arumpone of Bone
- see below.
3)? …, who had issue:
a) Arung Temujung [To' Mojong]. m.
at Selangor, July 1780, as her third husband, Y.A.M. Raja Puneh binti al-Marhum
Sultan Saleh al-din, Tengku Ampuan, former wife of Raja 'Ali of Riau,
and before that Raja 'Abdu'llah of Kedah, and eldest daughter of H.H. Sultan
Saleh al-din Shah ibni al-Marhum Raja Chelak, Sultan of Selangor, by his first
wife, a younger daughter of Paduka Seri Sultan Ala ud-din Ri'ayat Shah bin
Daeng Rilaga, 1st Yang di-Pertuan Muda of Riau. He had issue, a
daughter:
i) H.H. Raja Basik binti Arung To'
Mojong, Tengku Ampuan. m. as his first wife, H.H. Sultan Muhammad
Shah ibni al-Marhum Sultan Ibrahim, Sultan of Selangor (b. 1772; d.
6th January 1857), third son of H.H. Sultan Ibrahim Shah ibni Sultan
Saleh ud-din, Sultan of Selangor, by his fourth wife, Che' Besar Halija, elder
daughter of Dato' Husain bin Pakjong, Dato' Sri Maharaja Lela. She had
issue, one son and one daughter - see Malaysia (Selangor).
1672 - 1696 H.H. La Tan-ri Tatta To' Urong To-ri Sompi Patta
Malampei Gammana Daeng Serang To' Appatunru Paduka Sri Sultan Sa'ad ud-din
[MatinroE-ri Bontowala], Arumpone of Bone. b. at Lamatta, Mario-ri Wawo,
Soppeng, 15th September 1634, son of La Pottobunna, Arung Tana
Tenga, by his wife, We Tan-ri Suwi, Datu Mario-ri Wawo,
daughter of La Tan-ri Ruwa Paduka Sri Sultan Adam, Arumpone of Bone, educ.
privately. Succeeded his mother as 15th Datu Mario-ri Wawo.
Granted the title Arung Palakka as a reward for freeing his
people from slavery in Makassar. Recognised by the Dutch as Arung Pattiru,
Palette and Palakka in Bone and Datu Mario-ri Wawo in
Soppeng, as well as Bantaeng and Bontoala, 1670. Proclaimed on the deposition
of his maternal uncle, 1672. Installed with the title of Paduka Sri Sultan
Sa'ad ud-din, 3rd November 1672. m. (first) (div.)
Arung Kaju. m. (second) 16th March 1668 (div.
26th January 1671), Sira Daeng Talele Karaeng Ballajawa (b.
10th September 1634; d. 11th February 1721),
former wife of Karaeng Bontomaronu, and of Karaeng Karunrung 'Abdu'l Hamid,
former Tuma'bicara-butta of Gowa, younger daughter of I-Mallewai Daeng
Ma'nassa Karaeng Mataoya, Karaeng of Chenrana and sometime Tumalailang
of Gowa, by his wife, Daeng Mangeppe, daughter of I-Mallingkaang Daeng
Mannyon-ri Karaeng Matoaya Sultan 'Abdu'llah Awwal al-Islam, Karaeng of Tallo. m.
(third) at Soppeng, 20th July 1673, We Tan-ri Pau Adda Sange Datu-ri
Watu [MatinroE-ri Madello], Datu of Soppeng, former wife of La Suni, Adatuwang
of Sidenreng, and daughter of La Tan-ri Bali Beowe II, Datu of Soppeng - see Indonesia
(Soppeng). m. (fourth) 14th September 1684, Daeng
Marannu, Karaeng of Laikang (d. 6th May 1720), former wife of
Karaeng Bontomanompo Muhammad, and daughter of Pekampi Daeng Mangempa Karaeng
Bontomaronu, of Gowa - see Indonesia (Laikang). He d.s.p.
at Bontowala, 6th April 1696 (bur. Bontobiraeng).
1696 - 1714 H.H. La Patau Paduka Sri Sultan Idris Azim
ud-din [MatinroE-ri Nagawuleng], Arumpone of Bone. b. 3rd
November 1672, son of La Pakkoku To' Angkone Taddampali, Arung Timurang,
Ugi, and Ranreng Tua, by his wife, We Te' Mappolo-bombang
Da Upi, daughter of La Pottonune, Arung Tanate, educ.
privately. Appointed as Heir Apparent by his uncle and invested with the title
of Arung Palakka, October 1681. Datu of Soppeng 1708-1714.
Succeeded his maternal uncle, 6th April 1696. m. (first)
I-Jummu We Umung Opu La Rompong [Pawelai Bolajala'jae], Arung Larompong
(d. 29th August 1721), daughter of La Mappadang Daeng Massuro
Sultan Muhammad Muhi ud-din, Datu of Luwu. m. (second) 4th
April 1687, I-Mariama [Mariam] Karaeng Patukangang La Mozossong-ri (b. 9th
February 1674; d. 26th July 1693), daughter of H.H. Paduka
Sri Sultan Fakhr ud-din 'Abdu'l Jalil ibni al-Marhum Sultan Muhammad Bakar
Hasan ud-din, Sultan of Gowa, by his wife, Daeng Bau' Bone. m. (fourth)
La Ntongang, Arung Panjili. m. (fifth) (morganatic) Dala
Marusu. m. (sixth) I-Bajang. m. (seventh) (morganatic) Ruqaya
Dala Bantaeng (d. at Chenrana, 1st March 1713). He d.
at Bontowala, 16th September 1714 (bur. Nagawuleng), having
had issue, eight sons and three daughters:
1) Daeng Bonto Karaeng Anamonjong
Ismail, who succeeded as H.H. La Parappa To' Aparapu Sappewali Daeng Bonto
Madanrang Karaeng Anamonjang Paduka Sri Sultan Shahab ud-din Ismail ibni
al-Marhum Sultan Idris Azim ud-din, Sultan of Gowa, Arumpone of Bone, and Datu
of Soppeng (s/o Mariam) - see below.
2) Datu Puwanna Karaeng Katangka
I-Matta Sulaiman, who succeeded as H.H. La Padang Sajati To' Apawara Paduka Sri
Sultan Sulaiman ibni al-Marhum Sultan Idris Azim ud-din, Arumpone of Bone (s/o
Mariam) - see below.
3) Karaeng Bisei 'Abdu'llah Mansur, Arung
Mampua, who succeeded as H.H. La Panaongi To' Pawawoi Arung Mampua
Karaeng Bisei Paduka Sri Sultan 'Abdu'llah Mansur ibni al-Marhum Sultan Idris
Azim ud-din, Arumpone of Bone (s/o Mariam) - see below.
4) La Mappasuri, Arung Apala.
He d. at Bawiang.
5) La Maddi. Fl. in Sakuwala, in the
Spermundes islands in 1726.
6) Datu Baringang La Temasongang
'Abdu'l Razzaq, who succeeded as H.H. La Mappasossong To' Appaware' Petta
Paduka Sri Sultan 'Abdu'l Razzaq Jalal ud-din ibni al-Marhum Sultan Idris Azim
ud-din, Arumpone of Bone and Datu of Soppeng (s/o Dala Maru) - see
below.
7) Datu Laisu Arung Panjili La
Tongang, Datu of Soppeng (s/o I-Bajang) - see Indonesia (Soppeng).
8) La Wattaeng, Arung Bakka.
m. Daeng Matanang, eldest daughter of his brother, H.H. La Mappasossong
To' Appaware' Petta Paduka Sri Sultan 'Abdu'l Razzaq Jalal ud-din ibni
al-Marhum Sultan Idris Azim ud-din [MatinroE ri-Malimungang], Arumpone of Bone,
fourth son of H.H. La Patau Paduka Sri Sultan Idris Azim ud-din, Arumpone of
Bone, by his seventh and morganatic wife, Dala Maru, educ. privately.
Appointed as Pungwwa with the title of Datu Baringang
1736. Appointed as Heir Apparent of Bone and invested with the title of Arung
Palakka, 5th February 1738. Datu of Soppeng 1749. Proclaimed on the
death of his half-sister, 2nd November 1749. Installed 8th
October 1752. m. (first) Daeng Balusu. He had issue, a son:
a) La Tan-ri Tappu To' Appaliweng, Arung
Timurang, who succeeded as H.H. La Tan-ri Tappu To' Appaliweng Arung
Timurang Paduka Sri Sultan Ahmad as-Saleh Shams ud-din, Arumpone of Bone - see
below.
1) Karaeng Champagaya I-Mangurangi
Siti Haibatu'llah. b. 17th May 1688 (d/o Mariam). She d.
13th September 1699.
2) Bata-ri Toja Daeng Talaga Arung
Timurung Datu-ri Chitta, who succeeded as H.H. Bata-ri Toja Daeng Talaga Arung
Timurung Datu-ri Chitta Sultana Zainab Zakiat ud-din binti al-Marhum Sultan
Idris Azim ud-din, Arumpone of Bone, Datu of Luwu, and Datu of Soppeng (d/o
I-Jummu) - see below.
3) We Yannebanna Dapatola (d/o
Mariam). She d. young.
1714 - 1715 H.H. Bata-ri Toja Daeng Talaga Arung Timurung
Datu-ri Chitta Sultana Zainab Zakiyat ud-din binti al-Marhum Sultan Idris Azim
ud-din [MatinroE-ri Tipuluna], Arumpone of Bone (first time) - see
below.
1715 - 1720 H.H. La Padang Sajati To' Apawara Paduka Sri
Sultan Sulaiman ibni al-Marhum Sultan Idris Azim ud-din [MatinroE-ri Beula],
Arumpone of Bone. b. 23rd September 1691, second son of H.H.
La Patau Paduka Sri Sultan Idris Azim ud-din, Arumpone of Bone, by his third
wife, I-Mariama Karaeng Patukangang La Mozossong-ri, daughter of H.H. Paduka
Sri Sultan Fakhr ud-din 'Abdu'l Jalil ibni al-Marhum Sultan Muhammad Bakar
Hasan ud-din, Sultan of Gowa, educ. privately. Appointed as Heir
Apparent an invested with the title of Arung Palakka, 1710.
Styled Datu Puanna I Matta. Datu of Soppeng
1714-1720 and 1724-1728. Succeeded his half-sister, as Arumpone of Bone, 5th
August 1715. Installed, 13th August 1715. Deposed in favour of his
sister, 20th January 1720. m. (first) 1708, Siti Zainab (b.
2nd August 1693; k. with his family, at Wilulang, near Luwu,
1728), elder daughter of Pakampi Daeng Mangemba, Arung Matowa Tanette, Regent
of Sijang, by his wife, Daeng Mattini Karaeng Bontoramba, daughter of Karaeng
Karunrung 'Abdu'l Hamid, sometime Tuma'bicara-butta of Gowa. m.
(second) m. 24th May 1718, Siti Nafisah Karaeng Tabaringang
(cre. 3rd June 1718) (b. 8th February 1706),
daughter of H.H. I-Mappaurangi Karaeng Kanjilo Paduka Sri Sultan Siraj ud-din
ibni al-Marhum Sultan 'Abdu'l Kadir, Sultan of Gowa and Tallo. He was k.
with his family, on the orders of his sister, at Wilulang, near Luwu, 1728,
having had issue, three sons and one daughter:
1) I-Matta 'Abdu'r Rahman
Mappatawang. b. 2nd August 1709 (s/o Siti Zainab).
2) Andi-andi Muhammad Yusuf. b.
24th January 1713 (s/o Siti Zainab).
3) I-Mappasonri Majang. b. 8th
March 1715 (s/o Siti Zainab). He d. ca. at Botowala, 19th
October 1719.
1) I-Maliembasana Siti Rahima. b.
16th January 1711 (d/o Siti Zainab).
1720 H.H. Bata-ri Toja Daeng Talaga Arung Timurung
Datu-ri Chitta Sultana Zainab Zakiat ud-din binti al-Marhum Sultan Idris Azim
ud-din [MatinroE-ri Tipuluna], Arumpone of Bone (second time) - see
below.
1720 - 1721 H.H. La Parappa To' Aparapu Sappewali Daeng
Bonto Madanrang Karaeng Anamonjang Paduka Sri Sultan Shahab ud-din Ismail ibni
al-Marhum Sultan Idris Azim ud-din, Sultan of Gowa [Tumamenanga-ri Sompaopu],
Sultan of Gowa, Arumpone of Bone, and Datu of Soppeng. b. 18th
January 1690, eldest son of H.H. La Patau Paduka Sri Sultan Idris Azim ud-din,
Arumpone of Bone, by his third wife, I-Mariama Karaeng Patukangang La
Mozossong-ri, daughter of H.H. Paduka Sri Sultan Fakhr ud-din 'Abdu'l Jalil
ibni al-Marhum Sultan Muhammad Bakar Hasan ud-din, Sultan of Gowa, educ.
privately. Appointed as Heir Apparent of Bone and invested with the title of Arung
Palakka, 1696. Proclaimed on the death of his maternal grandfather as
Sultan of Gowa, 18th September 1709. Deposed by the nine Bata
Salapangas, 24th August 1712. Succeeded on the abdication of his
half sister as Arumpone of Bone and Datu of Soppeng, 20th January
1720. Installed 8th October 1720. Deposed by his brother-in-law at
Bone, before 16th December 1721. Continued to reign at Soppeng until
his death. m. (first) 16th May 1702 (div. 14th
February 1708), Siti Rahima Karaeng Pabiniyang (b. 2nd
January 1689 d. 27th October 1742), younger daughter of H.H.
I-Mappajanji Daeng Matinri Karaeng Kanjilo Paduka Sri Sultan 'Abdu'l Kadir I
ibni al-Marhum Sultan Harun ar-Rashid, Sultan of Tallo, by his third wife,
Karaeng Parang-parang Siti Khadija, daughter of I-Mappasosong Daeng Mangngewai
Karaeng Bisei Sultan Muhammad 'Ali ibni al-Marhum Sultan Muhammad Bakar Hasan
ud-din, Sultan of Gowa. m. (second) 2nd December 1706, Siti
Labiba [Gumitiri] (d. at Chinrana, 3rd March 1713), daughter
of Shaikh Yusuf [To' Iwanta To' Salamai], by his wife, Kare-Kontu. He d.
at Soppeng, 1st April 1724, having had issue, one son and two
daughters:
1) I-Massanglomo Muhammad Sadiq
Manrijogau, Arung Sumalieng [MatinroE-ri Salassana]. b. 29th
June 1711 (s/o Siti Labiba). Patta Punggwa of Bone. m.
Patta Tajung. He had issue, two sons:
a) Arung Sumalieng. m.
11th April 1748 (div. 13th February 1751), Karaeng
Limpangang, younger daughter of H.H. I-Mappainga Karaeng Limpangang Paduka Sri
Sultan Safi ud-din ibni al-Marhum Sultan Siraj ud-din, Sultan of Tallo. He had
issue, a son:
i) 'Abdu'r Rahman Karaeng Bisei. b.
10th June 1749.
b) Patta MaintoE-ri Tasiena (s/o
Patta Tajung). m. Patta Matowi.
1) Siti Zainab Karaeng Patukangang. b.
3rd January 1709 (d/o Siti Labiba). m. 16th
October 1724, as his second wife, H.H. I-Manariba Karaeng Kanjilo Paduka Sri
Sultan Nazim ud-din ibni al-Marhum Sultan Siraj ud-din, Sultan of Tallo (b.
23rd December 1708; d. 1729), eldest son H.H. I-Mappaurangi
Karaeng Kanjilo Paduka Sri Sultan Siraj ud-din ibni al-Marhum Sultan 'Abdu'l
Kadir, Sultan of Gowa and Tallo, by his second wife, Siti Zainab Karaeng
Balassari. She d. 19th January 1740, having had issue, one
son and one daughter - see Indonesia (Tallo).
2) H.H. I-Tanitaja Maning Ratu Siti
Amira [MatinroE-ri Lanna], Arung Palakka. b. 9th May
1711 (d/o Siti Rahima). Appointed as Heiress Apparent of Bone and
invested with the title of Arung Palakka 1720. m. 3rd
November 1725, H.H. I-Mappainga Karaeng Limpangang Paduka Sri Sultan Safi
ud-din ibni al-Marhum Sultan Siraj ud-din [I-Makkasuma], Sultan of Tallo (b.
7th December 1709; d. 1760), third son H.H. I-Mappaurangi
Karaeng Kanjilo Paduka Sri Sultan Siraj ud-din ibni al-Marhum Sultan 'Abdu'l
Kadir, Sultan of Gowa and Tallo, by his second wife, Siti Zainab Karaeng
Balassari. She d. at Barisallo, 8th January 1779, having had
issue, two sons and two daughters:
a) I-Malawanggau Mansur Shah, who
succeeded as H.H I-Malawanggau Sultan 'Abdu'l Khair al-Mansur Shah ibni
al-Marhum Sultan Safi ud-din, Sultan of Gowa - see Indonesia (Gowa).
b) H.H I-Mappaba'basa Sultan 'Abdu'l
Kudus ibni al-Marhum Sultan Safi ud-din, Sultan of Gowa - see Indonesia
(Gowa).
a) I-Danra-Datu Siti Nafisah Karaeng
Langelo, who succeeded as H.H. I-Danraja Siti Nafisah Karaeng Langelo binti
al-Marhum, Arumpone of Bone - see below.
b) I-Rida Siti Rahmat. b. 13th
October 1730.
1721 - 1724 H.H. I-Mappaurangi Karaeng Kanjilo Paduka Sri
Sultan Siraj ud-din ibni al-Marhum Sultan 'Abdu'l Kadir [Tuammenang-ri-Pasi in
Gowa or Tomamaliang-ri Gaukana in Tallo], Sultan of Gowa and Tallo. Deposed his
brother-in-law and installed as Arumpone of Bone, before 16th
December 1721. Retired from Bone, 8th January 1724 - see Indonesia
(Gowa and Tallo).
1724 H.H. La Panaongi To' Pawawoi Arung Mampua Karaeng
Bisei Paduka Sri Sultan 'Abdu'llah Mansur ibni al-Marhum Sultan Idris Azim
ud-din [Tuammenang-ri Bisei], Arumpone of Bone. b. 22nd July
1693, third son of H.H. La Patau Paduka Sri Sultan Idris Azim ud-din, Arumpone
of Bone, by his third wife, I-Mariama Karaeng Patukangang La Mozossong-ri,
daughter of H.H. Paduka Sri Sultan Fakhr ud-din 'Abdu'l Jalil ibni al-Marhum
Sultan Muhammad Bakar Hasan ud-din, Sultan of Gowa, educ. privately.
Styled Arung Mampua before his accession. Proclaimed on the
departure of Sultan Siraj ud-din, 8th January 1724. Abdicated in
favour of his sister, 28th June 1724. Granted the title of Karaeng
Bisei, by the Sultan of Gowa, after he had fled there. m. (first) 28th
January 1717, I-Tugu. m. (second) Karaeng Balasari. He d. at
Gowa, 29th March 1734, having had issue, a son:
1) La Paga, Arung Mampua (s/o
Karaeng Balasari). Appointed as Heir Apparent 1769. He had issue, two sons:
a) La Sappo, Arung Mario.
b) Arung Matua Tanette.
1724 - 1738 H.H. Bata-ri Toja Daeng Talaga Arung Timurung
Datu-ri Chitta Sultana Zainab Zakiat ud-din binti al-Marhum Sultan Idris Azim
ud-din [MatinroE-ri Tipuluna], Arumpone of Bone (third time) - see
below.
1738 - 1741 H.H. I-Danraja Siti Nafisah Karaeng Langelo
binti al-Marhum, Arumpone of Bone. b. 20th August 1729,
eldest daughter of H.H. I-Tanitaja Maning Ratu Siti Amira, Arung Palakka,
younger daughter of H.H. La Parappa To' Aparapu Sappewali Daeng Bonto Madanrang
Karaeng Anamonjang Paduka Sri Sultan Shahab ud-din Ismail ibni al-Marhum Sultan
Idris Azim ud-din, Sultan of Gowa, Arumpone of Bone, and Datu of Soppeng, by
her husband, H.H. I-Mappainga Karaeng Limpangang Paduka Sri Sultan Safi ud-din
ibni al-Marhum Sultan Siraj ud-din, Sultan of Tallo. Installed by the Wadjorese
as Arumpone of Bone, 10th May 1738. She d. unm. 30th
December 1741.
1714-1715, 1720, 1724-1738 and 1741-1749 H.H. Bata-ri Toja
Daeng Talaga Arung Timurung Datu-ri Chitta Sultana Zainab Zakiat ud-din binti
al-Marhum Sultan Idris Azim ud-din [MatinroE-ri Tipuluna], Arumpone of Bone. b.
July/August 1687, eldest surviving daughter of H.H. La Patau Paduka Sri Sultan
Idris, Arumpone of Bone, by his first wife, I-Jummu Opu La Rompong, daughter of
La Mappadang Daeng Massuro Sultan Muhammad Alim ud-din, Datu of Luwu. Styled Datu
Chita and Arung Timurang before her accession. Succeeded
on the death of her father, as Arumpone of Bone, 16th September
1714. Installed 24th November 1714. Abdicated in favour of her
brother, and resumed her titles of Datu Chietta and Arung Timurang,
5th August 1715. Installed as Datu Paiyung of Luwu, 28th
June 1719. Became Datu of Soppeng, 1715 and again conjointly with Bone
1728-1738. Succeeded to Bone for a second time on the deposition of her younger
brother, but abdicated immediately in favour of her eldest half-brother, 20th
January 1720. Restored for the third time on his deposition, 28th
June 1724. Expelled by the Wajorese, 10th May 1738. Restored for the
last time following the death of her grand-niece, 31st December
1741. m. (first) 16th December 1704 (div. 13th
October 1705), as his second wife, H.H. Paduka Sri Sultan Muharram Harun
al-Rashid Jalal ud-din Muhammad Shah, Sultan of Sumbawa (b. 20th
March 1688; d. 12th February 1725), elder son of Mas Banten,
Sultan of Sumbawa. m. (second) (div. 20th December
1714), Pabukajuwa, Datu Ulaweng, a Bonese prince. m. (third)
before August 1715, Arung Zallieng, Adatuwang of Sidenreng (d. at Luwu,
1st October 1725), Regent of Bone 1724-1725. m. (fourth) 22nd
March 1726 (div. 9th October 1728), Daeng Mamuntuli, Arung
Kayu (b. 18th April 1678; d. at Maros, 7th
December 1736), Regent of Bone 1726-1728, son of Arung Tako, by his
wife, Daeng Nisaju, daughter of Karaeng Karunrung 'Abdu'l Hamid, sometime Tuma'bicara-butta
of Gowa. She d.s.p. at her palace, in Bone, 2nd
November 1749
1749 - 1775 H.H. La Mappasossong To' Appaware' Petta Paduka
Sri Sultan 'Abdu'l Razzaq Jalal ud-din ibni al-Marhum Sultan Idris Azim ud-din
[MatinroE ri-Malimungang], Arumpone of Bone, fourth son of H.H. La Patau Paduka
Sri Sultan Idris Azim ud-din, Arumpone of Bone, by his seventh and morganatic
wife, Dala Maru, educ. privately. Appointed as Pungwwa with the
title of Datu Baringang 1736. Appointed as Heir Apparent of Bone
and invested with the title of Arung Palakka, 5th February
1738. Datu of Soppeng 1749. Proclaimed on the death of his half-sister, 2nd
November 1749. Installed 8th October 1752. m. (first) Daeng
Balusu. m. (second) Daneg Tona. m. (third) Sharifa Habiba binti
Sheikh Muhammad Jalil ud-din, daughter of Sheikh Muhammad Jalil ud-din bin
Sheikh Yusuf. He d. at Malimongang, 17th June 1775, having
had issue, four sons and eight daughters:
1) Muhammad Rammalang, Arung
Ponri (s/o Daeng Balusu). m. Arung Limpa.
2) La Potto, Datu Baringang
(s/o Daeng Balusu). m. (first) July 1780 H.H I-Maddelung
Karaeng Bontomasugi Sultana Siti Saliha II [Tumenanga-ri-Kanatojenna], Sultana
of Tallo (m. second, La Temmupage, Punggwa of Bone, and d.
May 1824), second daughter of H.H. I-Mappatunru I-Manginyarang Karaeng
Lembangparang Paduka Sri Sultan 'Abdu'l Rauf, Sultan of Gowa and Tallo, by his
first wife, I-Ralle, Arung Lipukasi. - see Indonoesia (Tallo).
m. (second) Arum Pulawang.
3) La Rukka, Arung Ta
and Arung Lakasi. Sometime Pungwa Lisu. m. (div.
1st November 1751) I-Dajang. m. (second) Datu Watu
[MatinroE-ri Pangkajini], sister of La Mappajanchi Daeng Massuro Sultan Musa
Polipuwi, Datu of Soppeng.
4) La Pasabi, Datu
Wulawang-i-Atchi.
1) Daeng Matanang (d/o Daeng
Balusu). m. her uncle, La Wattaeng, Arung Bakka, youngest
son of H.H. La Patau Paduka Sri Sultan Idris Azim ud-din, Arumpone of Bone. She
had issue - see above.
2) Arung Majang (d/o Daeng
Balusu)
3) Chollie, Datu Waliwi.
m. La Tan-ri Odang Daeng Mattinri Sultan Yussuf Fakhr ud-din
[MatinroE-ri Musuna], Karaeng of Tanette and Datu of Soppeng (d. July
1747) - see Indonoesia (Soppeng) and Indonoesia (Tanette).
4) We Tanri Olle, Datu Bolie
(d/o Habiba). m. La Mappajanchi Daeng Massuro Sultan Musa
Polipuwi, Datu of Soppeng, son of La Tan-ri Liletang Sultana Aisha Bahjat
ud-din, Datu of Luwu and Karaeng of Tanette, by her third husband, La
Mappaselli, Datu Pattuju Soppeng.
5) I-Seno Datu Chietta (d/o
Daneg Tona). Regent of Tanette for her minor son, 9th September
1807-1814. m. La Maddusila 'Abdu'l Kadir Muhi ud-din [MatinroE-ri
Dusang], Karaeng of Tanette (d. 9th September 1807). She had
issue, a son and a - see Indonoesia (Tanette).
6) Arung Nangka (d/o Daneg
Tona). m. La Wakka Arung Atakka.
7) Arung Amalie (d/o Daneg
Tona).
8) Siti Halima.
1775 - 1812 H.H. La Tan-ri Tappu To' Appaliweng Arung
Timurang Paduka Sri Sultan Ahmad as-Saleh Shams ud-din
[MatinroE-ri-Rompegading], Arumpone of Bone. b. 12th June
1757, son of La Wattaeng, Arung Bakka, by his wife, Daeng
Matanang, eldest daughter of H.H. La Mappasossong To' Appaware' Petta Paduka
Sri Sultan 'Abdu'l Razzaq Jalal ud-din ibni al-Marhum Sultan Idris Azim ud-din
[MatinroE ri-Malimungang], Arumpone of Bone. Succeeded on the death of his
maternal grandfather, 17th June 1775. Arung Matowa of Wajo
1775-1795. m. We Pada [MatinroE-ri Saodanrana]. He d. at
Rompegadieng, 22nd July 1812, having had issue, seven sons and two
daughters:
1) La Mappatunru To' Apatunru,
Arung Palakka, who succeeded as H.H. La Mappatunru To' Apatunru
Paduka Sri Sultan Muhammad Ismail Mukhtas ud-din ibni al-Marhum Sultan Ahmad
as-Saleh Shams ud-din, Arumpone of Bone - see below.
2) La Mappaseling, Arung Panjili,
who succeeded as H.H. La Mappaseling Paduka Sri Sultan Adam Nazim ud-din,
Arumpone of Bone - see below.
3) La Mappaewa, Arung Lompu.
m. (first) Karaeng Agangjene, a princess of Wajo. m. (second) La
Tabbacina, Arung Amali. He had issue two sons and one daughters:
a) La Parenrengi, Arung Pungi,
who succeeded as H.H. La Parenringi Paduka Sri Sultan Ahmad Saleh Muhi ud-din,
Arumpone of Bone (s/o Karaeng Agangjene) - see below.
b) Tuancalo, Arung Amali
and Arung Ujong (s/o Karaeng Agangjene). Tomarilalang
of Bone 1849-1866. m. (first) … m. (second) I-Kumala Daeng Nutte.
He had issue, two sons and several daughters, including:
i) Jakolo Daeng Marangka (d/o
the first wife). Sulawatang of Amali 1916. m. Daeng Kandung, and
had issue, one son:
(1) I-Pamusu [Petta Rani]. Sulawatang
of Amali.
ii) I-Mappanenga Daeng Malewa (d/o
Daeng Nutte). m. I-Mancung. She had issue two sons:
(1) I-Basu Pasampure. Sulawatang
of Amali.
(2) I-Mappasessu Daeng Malolo. Sulawatang
of Amali.
i) I-Jura To Maradeka. m.
H.H. Sinkerrung Rukka Paduka Sri Sultan Ahmad Idris, Arumpone of Bone, son of
To' Patarai Sumanga Rukka, Arung of Barru, by his wife, I-Baege Arung Mavege,
daughter of H.H. La Mappatunru To' Apatunru Paduka Sri Sultan Muhammad Ismail
Mukhtas ud-din ibni al-Marhum Sultan Ahmad as-Saleh Shams ud-din, Arumpone of
Bone - see below.
ii) A daughter.
iii) A daughter. m. Andi
Masangkirang Daeng Patapa, Arung Majege, son of Arung Maluju
and Arung Lanca - see below.
a) I-Saira Karaeng Agangjene Rantang
Talotanreng, Arung Lompu (d/o Karaeng Agangjene). m. 1842,
her cousin, H.H. Sinkarung-rukka Paduka Sri Sultan Ahmad Idris [MatinroE-ri
Lalambata], Arumpone of Bone (b. 1818; d. 1871), elder son of To'
Patarai Sumanga Rukka, Arung of Barru, by his wife, I-Baege Arung Mavege,
only daughter of H.H. La Mappatunru To' Wappatunru' Paduka Sri Sultan Muhammad
Ismail Mukhtaj ud-din, Arumpone of Bone. She d. 1849, having had issue -
see below.
b) Arung Ajalierang. m. Opu
Chimpu, of Luhu. She had issue:
i) Bau Chiena.
6) La Tan-ri Suki, Arung Kayuara.
m. the Datu of Suppa, sister of Datu La Cebu, Adatuwang of Sawito. He d.
1857, having had issue, one daughter:
a) I-Basse Tan-ri Waru Kayuara Hadi
Abel Hadi Pelaiengi Pasimpa, Datu of Suppa. Styled Arung Kayuara,
and Arung Mapelaiyengi Pasimpa before her accession.
Regent for her infant son 1857-1860. m. her cousin, H.H. La Parenringi
Paduka Sri Sultan Ahmad Saleh Muhi ud-din, Arumpone of Bone (d. 1857),
son of La Mappaewa, by his wife, Karaeng Agangjene of Wajo. She had issue one
son and three daughters - see below.
7) Arung Sumalieng. m.
1799, Karaeng Rapochini, daughter of H.H I-Maddelung Karaeng Bontomasugi
Sultana Siti Saleha II, Sultana of Tallo, by her second husband, La Temmupage, Pungawa
of Bone.
8) Arung Paroko.
Sometime Punggwa.
1) Bata-ri Tungi [MatinroE-ri
Belawa], Arung Timurung. She d. 1859.
2) I-Makalaruwa, Arung Palengorang.
m. La Mappanganro [MatinroE-ri Sasso], Arung Sinri (d.
9th January 1854), Tomarilalang to 1848. She d. 10th
July 1854.
3) I-Maneng, Arung Data,
who succeeded as H.H. I-Maneng Paduka Sri Ratu Sultana Salima Rajiat ud-din,
Arumpone of Bone - see below.
1812 - 1823 H.H. La Mappatunru To' Wappatunru'
Paduka Sri Sultan Muhammad Ismail Mukhtaj ud-din [MatinroE-ri Lalang-bata],
Arumpone of Bone, eldest son of H.H. La Tan-ri Tappu To' Appaliweng Arung
Timurang Paduka Sri Sultan Ahmad as-Saleh Shams ud-din, Arumpone of Bone, by
his wife, We Pada. Appointed as Heir Apparent and invested with the title of Arung
Palakka by his father. Proclaimed on the death of his father, 22nd
July 1812. m. (first) I-Banri, Arung Matan. m.
(second) I-Bau, Arung Kaju. m. (third) I-Danti, an arung
from Awangpone. He d. 1825, having had issue, seven sons and three
daughters:
1) La Pabenteng Daeng Palawa (s/o
I-Banri). m. I-Nyonyo, Arung Gona. He d. before
10th December 1863, having had issue, two sons:
a) La Hya Daeng Maswo, Arung Gona.
b) Opu Daeng Maturing, Arung Tarasu.
2) La Pajoppo Daeng Mangottong (s/o
I-Danti). Tomarilalang of Bone 1866-1885.
3) Daeng Manabba (s/o
I-Banri). Makadang Tanah. He d. 1897, having had issue:
a) Arung Maluju. m.
Arung Lanca. He had issue:
i) Andi Masangkirang Daeng Patapa, Arung
Majege (1890). m. the youngest daughter of his cousin, Tuancalo, Arung
Amali and Arung Ujong, sometime Tomarilalang. He
had issue, a son:
(1) Sambalogeng Daeng Manabba.
ii) Arung Majege.
i) A daughter. m. Baso Pagilingi
'Abdu'l Hamid, Arung Lita, son of H.H. La Pawawoi Karaeng Sigeri,
Arumpone of Bone, by his wife, I-Karimo Daeng Tamene. She had issue - see
below.
4) Daeng Parau. He d. before
10th December 1863.
5) Daeng Parangriang. He d.
after 1861, probably in Bajuwa, having had issue, a daughter:
a) I-Salondi, Aru Bakung. m.
Andi La-Pananrang, Arung Marowanging, son of H.H. La Singkara
Rukka Paduka Sri Sultan Ahmad Idris, Arumpone of Bone, by his wife, I-Jura To
Maradeka, a daughter of Tuancalo, Arung Amali and Arung Ujong,
sometime Tomarilalang of Bone - see below.
6) Daeng Pagesu. He d. before
10th December 1863.
7) Bonto-batu Daeng Sitabu. He d.
before 10th December 1863.
1) I-Baengo, Arung Mavege
(s/o I-Bau). Appointed as Heiress Apparent with the title of Arung
Palakka. m. To' Patarai Sumanga Rukka, Arung of Barru, son of To'
Apasawe, Arung of Barru (d. April 1836), by his wife, Aru Pao-pao,
daughter of Datu 'Abdu'l Kadir Muhi ud-din, Karaeng of Tanette. She had issue,
two sons and one daughter:
a) H.H. La Singkara Rukka Paduka Sri
Sultan Ahmad Idris [MatinroE-ri Topaccing], Arumpone of Bone - see below.
b) Nenena I-Calla Ahmad al-Kusasi
To' Lampeng, Datu of Soppeng - see Indonesia (Soppeng).
a) I-Tanri Pada Sultana Siti Aisha
[Besse-Barru], Arung of Barru - see Indonesia (Barru).
2) Daeng Takunjung. She d. in
Bone, 16th September 1862.
3) Daeng Mawaru.
1823 - 1835 H.H. I-Maneng Paduka Sri Ratu Sultana Salima
Rajiat ud-din [MatinroE-ri Kassi], Arumpone of Bone, eldest daughter of H.H. La
Tan-ri Tappu To' Appaliweng Arung Timurang Paduka Sri Sultan Ahmad as-Saleh
Shams ud-din [MatinroE-ri-Rompegading], Arumpone of Bone. Styled Arung Data
before her accession. Succeeded on the death of her brother, 1823. She d.s.p.
unm. 1835.
1835 - 1845 H.H. La Mappaseling Paduka Sri Sultan Adam Nazim
ud-din [MatinroE-ri Salassana], Arumpone of Bone, fourth son of H.H. La Tan-ri
Tappu To' Appaliweng Arung Timurang Paduka Sri Sultan Ahmad as-Saleh Shams
ud-din [MatinroE-ri-Rompegading], Arumpone of Bone. Styled Arung Panjili
before his accession. Succeeded on the death of his sister, 1835. m.
Karaeng Patingalaong, daughter of Karaeng Sapanang and Karaeng Patingalaong, of
Gowa. He d.s.p. 1845.
1845 - 1858 H.H. La Parenringi Paduka Sri Sultan Ahmad Saleh
Muhi ud-din [MatinroE-ri Aja-benteng], Arumpone of Bone, eldest son of La
Mappaewa, Arung Lompu, educ. privately. Styled Arung
Pungi before his accession. Succeeded on the death of his paternal
uncle, 1845. m. (first) cousin, H.H. Panchai-tana I-Basse Tan-ri Waru
Sultana Um Hadi Arung Kajuwara Arung Pelaiengi Pasempa [MatinroE-ri Majennang],
Datu of Suppa, Regent for her infant son from 16th February 1858,
fled with her son on 6th November 1859, returned in 1860 but deposed
ca. 20th January 1860, daughter of his uncle, La Tan-ri Suki Arung
Kayuara, by his wife, Mandika Daeng Matanang, daughter of La Kuning Sultan
Ahmad, Adatuwang of Sawito and Datu of Suppa. m. (second) Andi Manarai
Daeng ni-Ratu. He d. 16th February 1858, having had issue,
one son and three daughters:
1) H.H. La Pamadanuka Paduka Sri
Sultan Sultan Abul-Hadi, Arumpone of Bone - see below.
1) We Tan-ri I-Kati Padanrang Bau
Jella, Adatuwang of Alita - see Indonesia (Alita).
2) I-Calla.
3) I-Madellung Karaeng Kajuara, Datu
of Suppa - see Indonesia (Suppa).
1858 - 1860 H.H. La Pamadanuka Paduka Sri Sultan Sultan
Abul-Hadi, eldest son of H.H. La Parenringi Paduka Sri Sultan Ahmad Saleh Muhi
ud-din, Arumpone of Bone, by his wife, H.H. Panchai-tana I-Basse Tan-ri Waru
Arung Kajuwara Arung Pelaiengi Pasempa Sultana Um Hadi, Datu of Suppa, educ.
privately. Succeeded on the death of his father, 16th February 1858.
Reigned under the regency of his mother. Fled with his mother on 6th
November 1859, returned in 1860 but deposed ca. 20th January 1860.
Went into exile in Suppa, 13th February 1860. He d. at Suppa,
6th December 1860.
1860 - 1871 H.H. La Singkara Rukka Paduka Sri Sultan Ahmad
Idris [MatinroE-ri Lalambata], Arumpone of Bone. b. 1818, elder son of
To' Patarai Sumanga Rukka, Arung of Barru, by his wife, I-Baege Arung Mavege,
only daughter of H.H. La Mappatunru To' Wappatunru' Paduka Sri Sultan Muhammad
Ismail Mukhtaj ud-din, Arumpone of Bone. Appointed as Heir Apparent and
invested with the title of Arung Palakka, 1857. Proclaimed and
installed as successor to La Pamadanuka, 20th January 1860 Confirmed
by the Government of the NEI, after renouncing his rights over Sinjang,Kajang
and Bulukumba, 18th February 1860. m. (first) I-Detima, Arung
Data. m. (second) 1835, I-Kalossong Karaeng Langelo, daughter of
I-Rombo Karaeng Katapang Fakhr ud-din. Tumailalang Towa of Gowa, by his
wife, I-Deko Dengkong Karaeng Lakiung, daughter of H.H. La Oddanriwu Karaeng
Katangka Paduka Sri Sultan 'Abdu'l Rahman ibni al-Marhum Sultan 'Abdu'l Rauf
[Tumenanga-ri-Suangga], Sultan of Gowa and Tallo. m. (third) 1842,
I-Saira Karaeng Agangjene Rantang Talotanreng, Arung Lompu (d.
1849), daughter of his uncle, La Mappaewa, Arung Lompu, by his wife,
Karaeng Agangjene, of Wajo. m. (fourth) (morganatic) I-Masieta, a lady
from Bone. m. (fifth) (morganatic) I-Bondeng, a lady from Barru. m.
(sixth) (morganatic) I-Batchi, a lady from Bulekomba. m. (seventh)
(morganatic) I-Natta I-Jura Indona Bassi To' Maradeka, a daughter of Tuancalo, Arung
Amali and Arung Ujong, sometime Tomarilalang of
Bone. He d. 1871, having had issue two sons and five daughters:
1) La Mappassissi, Arung Pasempe
(s/o I-Detima). He d. 1910, having had issue, a son:
a) La Mappasere, Arung Ta
(cre. 1913) and Arung Pasempe (1910). b. 1890, educ.
privately. Sulawatang of Palakka 1911-1916. m. We Tan-ri Balobu.
He had issue, four sons and three daughters:
i) Andi Dadi, Petta Lolo.
ii) Andi Paturusi, Petta Megge
iii) Andi Mappasissi, Petta Awangpone.
b. 1926. Dir. La Pawawoi Museum, Wattampone, 1990. He had issue,
including:
(1) Haji Andi Baso Hamid.
(2) Andi …
(3) Andi …
(4) Andi …
(5) Andi Sumange Rukka.
(1) A daughter. m. a son of
Andi Ninong, Ranrang Tuwa of Wajo.
iv) Andi Baso Jaya.
i) Andi Besse Junaeda.
ii) Andi Besse Ujung.
iii) Andi Besse Ena.
2) H.H. La Pawawoi Karaeng Sigeri,
Arumpone of Bone (s/o Karaeng Langelo) - see below.
3) La Panondo, Daeng Malorosang (s/o
I-Masieta).4) La Palajarang, Arung Sampobia (s/o I-Bondeng). m.
I-Nonding, Aru Majege.
5) I-Muhammad, Arung Tonra (s/o
I-Batchi). m. Daeng Sunra, daughter of Daeng Mamala, sometime Punggawa
lampona-jawi.
6) [La Makka, Daeng Parani, Arung
Lepokassi. s/o the Arung Palakka of 1856].
7) Andi La Pananrang, Arung Marowanging
(d/o I-Jura To' Maradeka). Panghulu Lampona-jawi from 21st
December 1862. m. I-Salondi, Aru Bakung, daughter of his cousin,
Daeng Parangriang. He had issue, a son:
a) Andi Maddusila Daeng Paraga. Sulawetang
of Palakka 1916-1922, Arung Majege 1922-1926, Tomarilaleng of
Bone 1926-1946, and Makadang Tanaé 1946. m. a daughter of his
paternal uncle, H.H. La Pawawoi Karaeng Sigeri [MatinroE-ri Bandung], Arumpone
of Bone, by his Sundanese wife. He had issue, a son:
i) S. Binol Maddusila Daeng Paraga.
1) H.H. I-Ban-ri Gau Sultana Fatima
[MatinroE-ri Bola Mappare], Arumpone of Bone (d/o Karaeng Agangjene) -
see below.
2) I-Allu, Arung Data (d/o
I-Jura To' Maradeka).
3) I-Bangkiko, Arung Sumalieng
(d/o I-Jura To' Maradeka). m. 12th October 1862, La
Tipu, Arung Kung, son of Daeng Matiero, sometime Sulawatang.
She had issue, a son:
a) Andi 'Ali, Arung Cenrana.
Penghulu Lompona Joae 1905. m. I-Hati. He had issue, a son:
i) Andi Sulolipu. DH of Cenrana
1905, Tomarilaleng of Bone 1946-1950.
4) I-Bassi Benting, Arung Kalibung
(d/o I-Jura To' Maradeka).
5) I-Bassi Malolo, Arung Miru
(d/o I-Jura To' Maradeka).
1871 - 1895 H.H. I-Ban-ri Gau Paduka Sri Sultana Fatima
[MatinroE-ri Bola Mappare'na], Arumpone of Bone, eldest daughter of H.H.
Sinkarung-rukka Paduka Sri Sultan Ahmad Idris [MatinroE-ri Lalambata], Arumpone
of Bone, by his third wife, Karaeng Agangjene Rantang Talotanreng, Arung
Lompu. Styled Arung Timurung and Datu Chitta
before her accession. Succeeded on the death of her father, 1871. Installed 1st
December 1872. m. April 1880, I-Ma'guliga Bangkung Daeng Serang Karaeng
Popo, Arung Palakka (d. 1902), second son of H.H. I-Mallingkaang
Daeng Njonri Karaeng Katangka Kulau Paduka Sri Sultan Muhammad Idris ibni
al-Marhum Sultan 'Abdu'l Kadir Muhammad 'Aidid, Sultan of Gowa, by his wife,
H.H. I-Tenri Pada Sultana Siti Aisha [Besse-Barru], Arung of Barru), daughter
of To' Patarai Sumanga Rukka, Arung of Barru. She d. 17th
February 1895, having had issue, one son and one daughter:
1) A son d. young.
1) I-Bunga Sutara Basse Daeng Bau, Arung
Apala. b. 1882 (d/o Ma'guliga). She d. 1903.
1895 - 1905 H.H. La Pawawoi Karaeng Sigeri [MatinroE-ri
Bandung], Arumpone of Bone. b. 1835, second son of H.H. La Singkara
Rukka Paduka Sri Sultan Ahmad Idris [MatinroE-ri Lalambata], Arumpone of Bone,
by his second wife, Karaeng Langelo of Gowa, educ. privately. Styled Arung
Sijelling before his accession. Appointed as Tomarilaleng 1889.
Succeeded on the death of his half-sister, 17th February 1895.
Installed 1st August 1895. Fled from his capital on the approach of
Dutch troops, 30th July 1905. Deposed and exiled to Java, 14th
November 1905. Rcvd: Great Gold Star for Loyalty and Merit. m.
(first) before 10th December 1863, I-Karimo Daeng Tamene, daughter of Arung
Magempang, of Barru. m. (second) at Bandung, after 1906, a Sundanese
lady. He d. at Bandung, Java, 17th January 1911, having had
issue, three sons and two daughters:
1) I-Baso Pagilingi 'Abdu'l Hamid, Arung
Lita (s/o Daeng Tamene) (step-father of Arung Labuaya). Appointed
as Petta Punggawae 1897. m. (a) 21st March
1898, Andi Genra, Datu Cinong, sister of La Massakkireng Daeng
Pattapeq, Arung Majege. m. (b) Jamandini, Arung Kaju
(m. second, … and had issue, d. 1918), sister of La Masakirang, Arung
Majege, and daughter of Arung Maluju and Arung Lanca.
He had issue, five sons and two daughters:
a) H.H. Andi Pabenteng Daeng Palawa,
Arumpone of Bone (s/o Jamandini) - see below.
b) La Mappeane, Arung Baringang.
He had issue, a son:
i) Andi Massarappi. Arung Majege
1946. Mbr. for South Celebes Provisional Parliament of the State of East
Indonesia 1946-1950.
c) Andi 'Ali.
d) La Parenrengi.
e) Andi Muhammad Masigi.
a) I-Tonra.
b) I-Batari.
2) Andi Mappagau Daeng Parani [Petta
Rani], Arung Sijelling.
3) Andi Mappasere.
1) I-Munca (d/o Daeng
Tamene).
2) A d/o the Sundanese lady. m.
Andi Maddusila Daeng Paraga, sometime Tomarilaleng of Bone, son of her
paternal uncle, Andi La Pananrang, Arung Marowanging - see above.
1905 - 1931 Interregnum.
1931-1946 and 1950-1960 H.H. Haji Andi Bacho La Mappanyuki
Karaeng Silayar Sri Sultan Ibrahim ibnu Sri Sultan Husain, Arumpone of Bone (first
time) - see below.
1946 - 1950 H.H. Andi Pabenteng
Daeng Palawa [MatinroE-ri Matuju], Arumpone of Bone. b. 1904, eldest son
of I-Baso Pagilingi 'Abdu'l Hamid, Arung Lita, by his second
wife, Jamandini, Arung Kaju, educ. Appointed as Heir
Apparent by the Arumpone of Bone La Mappanyuki. Styled Aru Pitu and Arung
Majege 1931-1941, exiled 1941-1945. Appointed to succeeded his deposed
cousin, June 1946. Deposed after the departure of the Dutch, 1950. Presdt. Hadat
Tinggi 1949-1950. Placed in protective custody 1950. Retired to Surabaya
1950-1967. He d. at Watampone, 1968, having had issue, one son:
1) Andi Manta Ahmad. m. a
Dutch lady, and had issue.
1931-1946 and 1950-1960 H.H. Haji Andi Bacho La Mappanyuki
Karaeng Silayar Sri Sultan Ibrahim ibnu Sri Sultan Husain [MatinroE-ri Gowa],
Arumpone of Bone. b. at Jongaya, 1884, as Andi Pammanyuki, second son of
H.H. I-Makkulau Daeng Serang Karaeng Lembangparang Sultan Sri Husain ibnu
Idris, Sultan of Gowa, by his wife, We Tan-ri Padarang, Princess of Alita,
eldest daughter of H.H. La Parenrengi Paduka Sri Sultan Ahmad, Arumpone of
Bone. Succeeded his aunt and mother-in-law as Datu Suppa, 1902.
Installed under the name of La Mappanyuki, 2nd July 1903.
Assisted his father in his War against the Dutch 1905-1906, but was captured
and exiled to Selayar 1907-1909. Restored to the throne of his maternal
ancestors and installed at Watampone, 17th March 1931. General
Chair. SUDARA 1944. Declared his kingdom to be a part of Indonesia, 1946.
Abdicated and retired to Jonggaya with his son, February 1946. Banished for his
support of the republic, 8th November 1946. Restored following the
departure of the Dutch in 1950. Kepala Daerah of the Swapraja of Bone,
21st December 1957- 21st May 1960. Posthumously declared
a National Hero of Indonesia, 10th November 2004. Rcvd:
Lesser Gold Star for Loyalty and Merit. m. (first) I-Madallung Karaeng
Bontomasigi, elder daughter of La Parenrengi Karaeng TinggimaE, Datu of Suppa,
by his first wife, I-Balontong Karaeng Tawiti, second daughter of H.H.
I-Mallingkaang Daeng Njonri Karaeng Katangka Kulau Paduka Sri Sultan Muhammad
Idris ibnu Sultan 'Abdu'l Kadir Muhammad 'Aidid, Sultan of Gowa. m.
(second) I-Batasai Daeng Tachu, a commoner. m. (third) Besse Bulo,
daughter of his aunt, I-Madellung Karaeng Kayuara, Datu of Suppa. m.
(fourth) I-Bida, a commoner. m. (fifth) I-Manene Karaeng Ballasari,
daughter of his uncle, Mugaliga Karaeng Popo, by his wife, I-Nako Karaeng
Panaikang. He d. at Jongaya, 18th April 1967, having had
issue, five sons and eight daughters:
1) Colonel Andi Pangerang Ibida
Daeng Parani [Petta Rani], Arung Majege (s/o I-Batassai), educ.
HIS, MULO, and OSVIA, Makassar. Rep. of the Indonesian Republic in Bone
1945-1946, arrested and imprisoned by the NICA November 1946, Kepala Daerah
(district head) of Bone 1950-1955, Resdt. Co-ordinator South Sulawesi
1955-1956, Governor of Sulawesi 12th July 1956 - 20th
April 1960 (Mil. Governor of South Sulawesi from 1st April 1957).
Hon. Col. TNI 1/4/1957. He d. 12th August 1975, having had
issue, a son:
a) ? Andi Anthon Pangerang.
2) I-Besse Daeng Kati (s/o
I-Batasai).
3) 'Abdu'llah Bau'maseppe, Datu of
Suppa (s/o Besse Bulo) - see Indonesia (Suppa).
4) Andi Yusufu Parenrengi Datu Lolo
(s/o I-Manene).
5) Andi Ahmad To' Wappa (s/o
I-Manene).
1) I-Ruqiya Karaeng Balla'ompo (d/o
Besse Bulo). m. Haji Andi Makkulu, sometime Bupati.
2) Andi Pasulle I-Masui (d/o
Besse Bulo).
3) I-Khalija We Tan-ri Padang
Opu-Datu (d/o I-Manene). m. 26th March 1944, Andi Jemma
La Baruwe, Pajung of Luwu (b. 22nd February 1885; d.
at Kota Makassar, 23rd February 1965), son of We Kambo Daeng-ri
Sompa, Datu of Luwu. She had issue - see Indonesia (Luwu).
4) Andi Ummu Hendi (d/o
I-Manene).
5) Andi Siti Patuman (d/o
I-Manene).
6) Andi Zainab Inena [Sawe] (d/o
I-Manene).
7) Datu-Bau Jella (d/o
I-Manene).
8) Andi Isima (d/o I-Bida).
La Tenri Aji To Senrima menggantikan
saudaranya La Maddaremmeng MatinroE ri Bukaka menjadi Mangkau’ di Bone. Dialah
yang melanjutkan perlawanan Bone terhadap Gowa, namun kenyataannya Bone kembali
mengalami kekalahan. Karena pada perang ini, Gowa ternyata dibantu oleh Luwu
dan Wajo. Pertahanan terakhir Arumpone La Tenri Aji To Senrima adalah Pasempe,
sehingga dikatakan Beta Pasempe (Kekalahan di Pasempe).
Sejak kekalahan di Pasempe, Bone
menjadi milik Gowa, Luwu dan Wajo. Wilayahnya dibagi tiga, sebahagian diambil
oleh Gowa, sebahagian diambil Luwu dan sebahagian diambil oleh Wajo. Ditawanlah
semua anak bangsawan Bone, termasuk La Pottobune’ bersama isteri dan
anak-anaknya. Selebihnya diberikan kepada Luwu dan Wajo. Adapun yang menjadi
milik Wajo tetap berada di Bone, sebab Wajo masih ingat perjanjian yang telah
disepakati oleh Arung terdahulu, yaitu ”Yang rebah akan ditopang, yang hanyut
akan diraih” sebagaimana isi LamumpatuE ri Timurung yang telah dilakukan oleh
TellumpoccoE (Bone, Soppeng dan Wajo).
Arung Matowa Wajo yang bernama La
Makkaraka mengatakan ; ”Bahagian Wajo yang pergi ke Gowa, adalah milik Gowa,
bahagian Luwu yang pergi ke Wajo, tetap milik Luwu. Kemudian bahagian Wajo yang
masih tinggal di Bone, tetap milik Bone. Kecuali dia sendiri yang datang ke
Wajo, barulah milik Wajo”. Permintaan ini akhirnya disetujui oleh KaraengE ri
Gowa dan Datu Luwu.
Ketika La Tenri Aji To Senrima
ditangkap dan dibawa ke Gowa, diikutkanlah semua anak bangsawan Bone lainnya.
Setelah itu Bone dibakar oleh orang Gowa, menjadilah Bone sebagai wilayah
jajahan Gowa dan seluruh rakyatnya dijadikan hamba. Sementara La Tenri Aji To
Senrima di tempatkan di Siang, sedangkan anak bangsawan lainnya dibagi-bagi
kepada anggota Hadat Gowa (Bate SalapangE) untuk dijadikan hamba dan sebagainya.
Diantara anak bangsawan yang ditawan
oleh Gowa, terdapat juga La Pottobune’ Arung Tanatengnga bersama isteri dan
anak-anaknya. Sebab yang tidak tertawan oleh Gowa hanyalah anak kecil, orang
tua lanjut umur, kecuali atas permintaan orang tuanya.
La Pottobune’ Arung Tanatengnga, isteri dan anak-anaknya tinggal di rumah
KaraengE. Ketika itu La Tenri Tatta baru berusia 11 tahun. Karena dia seorang
anak yang cerdas, sehingga banyak yang menyukainya. Oleh karena itu, semua
anggota Bate SalapangE pernah ditempatinya.
Karena La Tenri Aji To Senrima
diasingkan ke Siang, maka KaraengE ri Gowa menyuruh kepada orang Bone untuk
mencari Arung (Mangkau’). Tetapi orang Bone tidak berani lagi menunjuk seorang
Mangkau’, sehingga orang Bone menyerahkan sepenuhnya kepada KaraengE ri Gowa.
Oleh karena itu, KaraengE ri Gowa menunjuk Karaeng Summana untuk melaksanakan
pemerintahan di Bone.
Tetapi karena Karaeng Summana tidak
bisa menghadapi orang Bone yang kelihatannya tetap berusaha menghalang-halangi
segala langkahnya, maka kembalilah Karaeng Summana ke Gowa. Kepada KaraengE ri
Gowa, Karaeng Summana melaporkan ketidak mampuannya menghadapi orang Bone. Oleh
karena itu terjadilah kevakuman pemerintahan di Bone saat itu.
La Tenri Aji To Senrima meninggal
dunia di Siang, sehingga dinamakan MatinroE ri Siang. Menurut catatan lontara’
dia hanya mempunyai seorang anak yang bernama La Pabbele MatinroE ri Batubatu.
Inilah yang melahirkan Daeng Manessa Arung Kading.
Selama beberapa waktu tidak ada
pengganti La Tenri Aji To Senrima MatinroE ri Siang sebagai Arumpone. Orang
Bone dan segenap anggota Hadatpun sudah tidak mau menunjuk seorang Mangkau’.
Sementara KaraengE ri Gowa juga ragu untuk mengangkat seorang Arung kalau bukan
yang diinginkan oleh orang Bone.
Oleh karena itu, KaraengE ri Gowa
hanya menunjuk seorang jennang (pelaksana) yang memiliki wewenang sebagai
pengganti Mangkau’ di Bone.
|
|
Makam To Balla Jenneng Bone di
Lalengbata Lamuru Kab. Bone
|
Tobala Arung Tanete ditunjuk oleh KaraengE ri Gowa
sebagai pengganti Mangkau di Bone yang disebut jennang. Selama 17 tahun
Tobala menjadi Jennang di Bone, sekian pula lamanya Bone dijajah oleh
Gowa. Ketika Tobala yang juga dikenal dengan gelar Petta
PakkanynyarangE menjadi Jennang di Bone, tindakan
kesewenang-wenangan orang Gowa terhadap orang Bone semakin menjadi-jadi. Banyak
orang Bone yang memilih untuk pindah ke daerah lain, karena tidak mampu lagi
menahan penderitaan akibat tindakan orang Gowa yang sangat kejam. Dimasa
pemerintahan Tobala, KaraengE ri Gowa minta dikirimkan orang dari Bone sebanyak
10.000. Jumlah itu tidak bisa kurang dan harus sesuai dengan yang diminta.
Orang sebanyak itu akan disuruh menggali parit dan membuat benteng. Kepada
siapa yang telah ditentukan untuk berangkat ke Gowa tidak bisa diganti,
walaupun ada hambanya yang bisa menggantikannya. Tidak bisa juga membayar
sebagai tebusan agar bisa tidak berangkat.
Saat itu La Tenri Tatta sudah mulai
dewasa dan kawinlah dengan I Mangkawani Daeng Talele. Pada saat orang Bone yang
jumlahnya 10.000 itu tiba, La Tenri Tatta bersama seluruh keluarganya
meninggalkan rumah KaraengE ri Gowa. Ia pun turun bekerja bersama orang Bone,
merasakan bagaimana penderitaan dan penyiksaan yang dialami mereka. La Tenri
Tatta To Unru menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana orang Gowa
menyiksa orang Bone jika didapati tidak bekerja atau malas karena kelaparan.
Orang Bone diperlakukan tak ubahnya hewan, dicambuk dan ditendang. Bahkan tidak
sedikit yang mati terbunuh oleh orang Gowa yang mengawasi penggalian parit dan
pembuatan benteng tersebut.
Melihat tindakan orang Gowa terhadap
orang Bone yang semakin tidak berperikemanusiaan, hati La Tenri Tatta menjadi
tergugah dan berpikir untuk membuat suatu rencana pembebasan. Dengan bekerja
sama dengan beberapa keluarga dekatnya, seperti Arung Belo, Arung Ampana dan
lain-lain. Kesepakatan yang dibuatnya adalah pada suatu saat yang tepat dan
aman, semua orang Bone melarikan diri dari tempat penggalian parit dan
pembuatan benteng tersebut menuju ke Bone.
Sementara Tobala tidak mampu lagi
untuk menerima tindakan orang Gowa terhadap orang Bone yang semakin hari semakin
menjadi-jadi. Hal ini menambah kesungguhan La Tenri Tatta untuk menegakkan
kembali kebesaran Bone. Dihimpunlah seluruh kekuatan Bone yang pernah bercerai
berai, dia juga mengajak Soppeng agar dapat membantu Bone melawan Gowa.
Setelah cukup 17 tahun Tobala
menjadi Jennang di Bone, ia membangkitkan kembali semangat orang Bone untuk
melawan Gowa. Sementara La Tenri Tatta bersama segenap keluarga, jowa dan
segenap orang Bone yang menjadi penggali parit telah berada dalam perjalanan
menuju ke Bone. Hal ini tidak diketahui oleh KaraengE ri Gowa bersama seluruh
anggota Hadatnya.
Setelah sampai di Bone, ia langsung
menemui Tobala Jennang Bone. Selain itu ia juga menyampaikan kepada Datu
Soppeng pamannya yang bernama La Tenri Bali. Memang telah dipersatukan Bone
dengan Soppeng sesuai bunyi Pincara LopiE ri Attapang (Perjanjian ri Attapang).
Bersatulah kembali Tobala dengan La Tenri Tatta membangkitkan kembali semangat
perlawanan orang Bone terhadap Gowa.
Sebagai wujud kegembiraan orang Bone
atas kembalinya La Tenri Tatta ke Bone, maka orang Bone sepakat untuk
mengangkatnya menjadi arung di Palakka mewarisi neneknya. Sejak itu dinamakanlah
Arung Palakka.
Setelah mempersatukan pendapat
dengan Jennang Tobala untuk tidak mundur dalam melawan Gowa, pergilah Arung Palakka
ke Lamuru untuk menghadang orang Gowa yang mengikutinya. Terjadilah perang yang
sangat dahsyat dan menelan korban yang tidak sedikit dari kedua belah pihak.
Karena kekuatan Gowa ternyata lebih kuat, maka ia pun mengundurkan diri bersama
pengawalnya.
Dalam perjalanannya menghindari
serangan Gowa, La Tenri Tatta Arung Palakka singgah menemui Datu Soppeng minta
bekal untuk dimakan dalam perjalanan bersama pengawalnya. Karena dia akan pergi
mencari teman yang bisa diajak kerja sama melawan Gowa. Hal ini dimaksudkan
agar dapat menegakkan kembali kebesaran Bone.
Atas permintaannya itu, Datu Soppeng
memberinya emas pusaka dari orang tuanya. Emas itulah yang dijadikan bekal
bersama segenap pengawalnya pergi mencari teman yang bisa diajak kerja sama
menegakkan kembali kebesaran Bone. La Tenri Tatta Arung Palakka sebelum
berangkat berjanji tidak akan memotong rambutnya sebelum ia kembali ke Bone.
Berangkatlah La Tenri Tatta Arung
Palakka bersama segenap pengawalnya, sementara orang Gowa tetap mengikuti
jejaknya. Orang Bone pun kembali melawan di bawah pimpinan Tobala yang dibantu
oleh orang Soppeng. Akan tetapi karena kekuatan Gowa masih lebih kuat, sehingga
orang Bone kembali mengalami kekalahan. Bahkan Tobala tewas dalam peperangan
dan Datu Soppeng tertawan.
Karena kekalahan itu, sehingga orang
Bone kembali ditawan dan dijajah oleh Gowa. Begitu pula orang Soppeng karena
telah membantu Bone dalam melawan Gowa. Sementara La Tenri Tatta Arung Palakka
tetap diburu oleh orang Gowa dan tidak sedikit mengalami kepungan yang hampir
saja menjebak dirinya. Seakan-akan tidak ada lagi tempat yang dapat digunakan
untuk berlindung di Bone.
Oleh karena itu, ia memutuskan untuk
menyeberang ke Tanah Uliyo (Butung) untuk minta perlindungan. Hal ini dilakukan
agar dapat menemukan teman yang dapat membantunya untuk melawan dan menundukkan
Gowa. Disiapkanlah perahu untuk menyeberang ke Butung.
Sesampainya di Butung, naiklah La
Tenri Tatta menemui Raja Butung. Raja Butung menerimanya dan bersedia
membantunya. Tetapi ternyata Gowa tidak akan berhenti untuk mengikuti jejaknya.
Setelah KaraengE ri Gowa mengetahui bahwa La Tenri Tatta bersama sejumlah
pengawalnya telah menyeberang ke Butung, ia segera memerintahkan Arung
Gattareng untuk menyusulnya.
Akan tetapi Arung Gattareng tidak
sampai di Tanah Uliyo dan dia kembali tanpa membawa hasil. KaraengE ri Gowa
lantas mengirim pasukan tempur untuk mengikuti sampai di Butung. Sesampainya di
Butung pasukan Gowa tersebut mencari ke berbagai tempat, namun tidak berhasil
menemukan La Tenri Tatta dengan seluruh pengawalnya. Raja Butung berusaha
meyakinkan orang Gowa bahwa La Tenri Tatta tidak ada di atas Tanah Butung. Oleh
karena itu, orang Gowa kembali tanpa menemukan La Tenri Tatta dan pengawalnya.
Setelah orang Gowa kembali ke
kampungnya, Raja Butung berkata kepada La Tenri Tatta ; ”Saya sangat khawatir
kalau pada akhirnya engkau dan seluruh pengawalmu ditemukan oleh orang Gowa di
Tanah Butung ini. Saya sarankan agar engkau menunggu Kompeni Belanda karena
tidak lama lagi dia akan datang. Dia akan berangkat ke Ternate karena Raja
Ternate berselisih dengan saudaranya. Sekarang saudara Raja Ternate itu ada di
Gowa untuk minta bantuan kepada KaraengE ri Gowa. Karena itu, KaraengE ri Gowa
bermaksud berangkat ke Ternate, orang Bone diseberangkan ke Butung oleh La
Sekati.
Tindakan kesewenang-wenangan
KaraengE ri Gowa bukan saja ditujukan kepada orang Bone, tetapi juga kepada
orang-orang Gowa yang menentang perintahnya. Dengan demikian orang Gowa pun
banyak yang menyeberang ke Butung termasuk Karaeng Bonto Marannu dengan
rakyatnya.
Keadan ini membuat KaraengE ri Gowa
marah besar terhadap Raja Butung. Lalu KaraengE ri Gowa membuat rencana untuk
menyerang Butung di Tanah Uliyo. Karena disitulah berlindung semua orang yang
dicari oleh KaraengE ri Gowa. Disitu pula kapal-kapal Kompeni Belanda selalu
singgah apabila hendak menuju ke Ternate. KaraengE ri Gowa memanggil Datu Luwu
yang bernama La Setiaraja untuk bersama- Tidak berapa lama, Kompeni Belanda
datang dengan segala alat perangnya menuju ke Ternate. Sebelumnya singgah di
Tanah Uliyo. Turunlah La Tenri Tatta diantar oleh Raja Butung menemui Komandan
Belanda di atas kapalnya. La Tenri Tatta minta kepada Kompeni agar dapat
diikutkan ke Ternate bersama seluruh pengawalnya.
Atas permintaannya itu Kompeni mengatakan,
”Tidak usah ke Ternate, tetapi lebih baik ke Jakarta. Nanti
di Jakarta baru diberikan tanah untuk di tempati bersama pengawalnya. Kalau
sudah ada kesempatan, kita sama-sama melawan Gowa. Jadi tunggulah di sini.
Kalau Kompeni kembali dari Ternate barulah singgah disini dan kita sama-sama ke
Jakarta”.
Oleh karena itu, La Tenri Tatta
Arung Palakka dan seluruh pengawalnya tinggal beberapa waktu di Butung menunggu
kembalinya Kompeni Belanda.
Tobala kawin dengan sepupu satu
kalinya yang bernama We Maisuri anak dari We Daompo dengan suaminya yang
bernama La Uncu Arung Paijo. Inilah yang melahirkan To Sibengngareng Maddanreng
Bone. Kemudian To Sibengngareng kawin dengan anaknya Opu Bontobangung di
Selayar yang melahirkan anak perempuan tiga orang. Yang pertama bernama We
Kelli Arung Paijo, yang kedua bernama We Sadia Petta Punna BolaE dan ketiga We
Panido Arung Atakka.
Sedangkan anak laki-laki Tobala dari
isterinya We Maisuri, La Tenri To Marilaleng Pawelaiye ri Kaluku BodoE.
Kemudian La Tone To Marilaleng Pawelaiye ri Pattingaloang. Inilah yang kawin
dengan We Tungke Arung Tessiada. Dari perkawinan itu lahirlah We Sutra Daeng
Tasabbe Arung Tessiada. Kemudian We Sutra Daeng Tasabbe kawin dengan La Rubba
Arung Jaling anak dari La Tenri To Marilaleng Pawelaiye ri Kaluku BodoE dari
isterinya We Sellima Arung Ulo. Dari perkawinan ini lahirlah yang bernama La
Mappa Arung Jaling, La Maddukkelleng Arung Tessiada, To Akkeppeang Sulewatang
Palakka.
La Mappa Arung Jaling kawin dengan
We Saria Arung Palongki dan melahirkan La Supu Arung Palongki. Selanjutnya La
Supu kawin dengan We Sutra Daeng Tasabbe, lahirlah La Esa Arung Palongki.
Kembali kepada La Tenri Tatta
bersama pengawalnya yang sementara berada di Butung. Setelah kapal Kompeni
Belanda kembali dari Ternate untuk selanjutnya ke Jakarta, singgahlah di Butung
mengambil La Tenri Tatta bersama seluruh pengawalnya. Setibanya di Jakarta
ditunjukkanlah tanah yang luas untuk ditempati. Kampung itu kemudian bernama
Kampung To PattojoE, disitulah La Tenri Tatta Arung Palakka MalampeE Gemme’na
membina dan melatih pengawalnya sebagai persiapan untuk kembali ke Tana Ugi
melawan KaraengE ri Gowa.